IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Paradigma Baru Pembangunan Pertanian Berbasis Agribisnis

Pendahuluan

Apabila diamati secara cermat, maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan pertanian selama ini dilaksanakan dengan pendekatan komoditas (Kasrino dan Suryana, 1992). Pendekatan ini dicirikan oleh pelaksanaan pembangunan berdasarkan pengembangan komoditas secara sendiri-sendiri (parsial) dan berorentasi pada peningkatan produksi. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa pembangunan sektor pertanian selama ini memberikan hasil yang sangat menakjubkan, terutama dalam memacu pertumbuhan produksi yang dibuktikan dengan tercapainya swasembada beras.

 

 

Keberhasilan program peningkatan produksi pertanian terutama beras, kelapa sawit, kakao, udang, ayam buras dan pedaging serta telur antara lain disebabkan oleh: keadaan pasar berbagai komoditas tersebut dalam situasi exees demond, dukungan paket teknologi maju, sumber daya alam yang tersedia, sumber dana tersedia dengan tingkat bunga disubsidi dan dana untuk investasi prasarana dan sarana ekonomi oleh pemerintah dan komitmen pemerintah.

Namun pendekatan komodite untuk masa yang akan datang kurang memadahi lagi, karena adanya indikasi: kejenuhan atau keterbatasan pengembangan pasar (permintaan), keterbatasan ketersediaan sumber pertanian, dan investasi dan mulai melandainya kenaikan produktivitas. Oleh karena itu diperlukan reorentasi pembangunan pertanian dimasa mendatang. Hal ini diperkuat lagi dengan pelaksanaan desentralisasi dan pemerataan pembangunan berkelanjutan yang lebih dimatangkan.

Berdasarkan uraian diatas, komoditas sudah tidak lagi cocok diterapkan dalam pembangunan pertanian selama ini, hal ini merupakan konskwensi logis masuknya globalisasi yang dicirikan oleh persaingan perdagangan international yang sangat ketat dan bebas. Perekonomian nasional akan semakin diregulasi melalui pengurangan subsidi, dukungan harga dan berbagai prestasi lainnya. Kemampuan bersaing melalui proses produksi yang efisien merupakan pijakan utana bagi kelangsungan hidup usahatani. Sehubungan dengan itu partisipasi dan kemampuan wirausaha petani merupakan kunci keberhasilan pembangunan pertanian. Disamping itu usahatani dan petani semakin tergantung dengan usaha lainnya maupun dengan berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Dengan kata lain persaingan dengan berbagai komoditas terhadap penggunaan sumberdaya pertanian akan semakin tinggi. Menyadari hal itu pemerintah telah menetapkan perubahan pendekatan pembangunan pertanian dari pendekatan komoduitas menjadi pendekatan optimalisasi kegiatan sumber daya pertanian dengan penerapan teknologi maju dan sistem agribisnis terpadu. Seiring dengan itu, orientasi pembangunan pertanianpun akan mengalami perubahan, dari orientasi peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan serta nilai-nilai gizi meningkat. Perubahan ini akan menimbulkan pergeseran kebutuhan penelitian sebagai faktor pemberi arah, pembela dan pemegang pelaksanaan pembangunan tersebut.

Agribisnis Kegiatan Ekonomi

Istilah agribisnis pertama kali dipopulerkan oleh Davis dan Goldberg (1957). Namun hingga kini masih sering terjadi ketidak samaan pengertian mengenahi istilah tersebut, oleh karena itu arti dan cakupan agribisnis perlu dijabarkan lebih dahulu.

Kata agribisnis dapat diuraikan menjadi agri yang berarti pertanian dan bisnis yang berarti usaha atau kegiatan ekonomi. Dengan demikian secara harfiah agribisnis dapat diartikan sebagai usaha atau kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pertanian.

Agribisnis dilakukan untuk mendorong timbulnya kegiatan yang bersifat backwardlinkages terhadap pertanian dan kegiatan ekonomi yang bersifat forword linkagges yang mengarah pada konsumen akhir (Kinsey, 1987). Berdasarkan difinisi tersebut diatas, agribisnis mempunyai dua makna yang berbeda namun saling berhubungan yaitu usaha ekonomi dan suatu sistem terpadu.

Dalam kaitannya sebagai usaha ekonomi, agribisnis dapat diartikan sebagai suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang yang berhubungan dengan pertanian. Agribisnis sebagai sebuah perusahaan dicirikan oleh dua hal yaitu: Pertama, berorentasi pasar, barang/jasa yang dihasilkan disalurkan melalui pasar dan sebagai atau seluruhnya sarana produksi yang dibutuhkan diperoleh (dibeli) dari pasar. Kedua, bersifat rasional, bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dengan dua ciri tersebut diatas dapat diketahui bahwa kegiatan produksi pertanian (farming) tidak otomatis dapat dikatagorikan sebagai agribisnis. Sebagai contoh produksi pertanian yang dimasukkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (pertanian subsisten) tidak tergolong sebagai agribisnis karena produksi yang diperoleh tidak disalurkan melalui pasar. Kegiatan yang dimaksud sebagai hoby juga tidak dapat digolongkan dalam agribisnis karena tujuannya tidak untuk memperoleh keutungan ekonomi yang sebenar-benarnya. Demikian pula kegiatan pertanian yang hasil produksinya dipertukarkan melalui bartter, tidak tergolong agribisnis karena tidak menggunakan pasar sebagai media transaksi. Dengan demikian bidang usaha agribisnis meliputi: 1) usaha untuk menghasilkan sarana produksi usahatani (industri peralatan dan material usahatani), 2) Usahatani berorentasi untuk memenuhi dinamika permintaan pasar, 3) Usaha yang mengolah produksi usahatani (Agroindustri) dan 4) Usaha perdagangan sarana produksi primer dan produksi olahan usahatani.

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar paling tidak ada dua pengertian agribisnis yang keliru: Pertama, agribisnis dianggap merupakan atau persoalan besar. Pengertian yang benar adalah bahwa agribisnis tidak membedakan sakala usaha. Perusahaan besar maupun kecil tergolong agribisnis asalkan merupakan usaha ekonomi yang merupakan perusahaan sarana dan produksi pertanian. Jadi usahatani keluargapun dapat tergolong agribisnis selama persyaratan tersebut dipenuhi. Kedua, agribisnis dianggap hanya mencakup usaha perdagangan dan pengolahan hasil pertanian, sedangkan usaha produksi pertanian tidak tergolong agribisnis. Pengertian inipun keliru karena sesungguhnya usaha produksi pertanian merupakan simpulan kegiatan agribisnis. Jadi usaha produksi pertanian juga termasuk agribisnis bahkan merupakan komponen utama agribisnis.

Agribisnis sebagai sebuah sistem terpadu, merupakan satu kesatuan jaringan yang tidak terpisahkan antara 4 (empat) komponen: jaringan perusahaan agribisnis, konsumen, kebijaksanaan dan kondisi perekonomian makro dan lembaga penunjang.

Cakupan agribisnis sebagai suatu sistem terpadu jauh lebih luas dari pada cakupan agribisnis sebagai jenis perusahaan. Sebagai jenis perusahaan agribisnis hanya mencakup kegiatan ekonomi saja (jaringan perusahaan), sedangkan sebaghai sebuah sistem terpadu, disamping mencakup konsumen, keadaan perekonomian makro dan lembaga penunjang (Dillon et al., 1971).

Arus Produksi

Jaringan perusahaan agribisnis meliputi segala perusahaan yang berkaitan dengan komoditas pertanian. Jaringan perusahaan ini terdiri dari tiga dimensi yaitu: Pertam, dimensi vertikal, dicirikan oleh arus produksi yang dihasilkan oleh setiap perusahaan agribisnis. Jadi usaha bidang agribisnis meliputi industri penghasil sarana produksi usahatani, usahatani industri pengolah hasil-hasil usahatani dan pedagang atau distributor dari hasil produk-produk yang dihasilkan. Kedua, dimensi horizontal, dicirikan oleh kaitan sumberdaya yang digunakan dalam proses produksi atau kaitan pasar (harga) dari produk yang dihasilkan oleh masing-masing perusahaan agribisnis yang ada dalam jaringan vertikal. Untuk kasus sistem agribisnis kedelai, alur horizontal antara lain terdapat pada bidang usahatani kacang kedelai maupun industri pengoalahannya. Alur harizontal usahatani kacang kedelai antara lain usahatani jagung, padi, kacang tanah dan kacang hijau. Kaitan horizontal untuk komoditas ini muncul, baik melalui sumberdaya khususnya lahan maupun melalui pasar (konsumsi). Dalam hal penggunaan lahan, usahatani kacang kedelai dengan usahatani jagung secara monokultur dapat bersifat non substitusi (saling menggeser) dapat pula bersifat komplementer (saling mendukung) apabila diusahakan secara tumpang sari usahatani padi, kacng tanah dan kacang hijau pada umumnya berifat substitutif dengan usahatani kacang kedelai. Kaitan horizontal pada industri pengolahan kedelai, misalnya antara industri pemerasan kedelai dengan industri minyak gorang/ minyak jagung. Kaitan horizontal ini terjadi melalui kegiatan pasar (konsumen) yaitu minyak kedelai, minyak goreng dan minyak jagung saling bersubstitusi satu sama lain. Sistem bisnis kacang kedelai terkait pula dengan sistem agribisnis jagung pada usaha pabrik pakan ternak karena bungkil kacang kedelai dan jagung bersifat komplementer dalam pembuatan pakan ternak. Dengan demikian sistem agribisnis jagung baik secara horizontal maupun secara vertical dan Ketiga, dimensi spesial, manunjukkan kaitan antara lokasi dan sistem regional dari usaha agribisnis dengan berbagai hal, diataranya luas dan kesuburan tanah atau lahan, kosentrasi konsumen serta kesediaan sarana dan prsarana produksi, oleh karena itu sistem agribsinis pada umumnya khas untuk suatu wawasan.

Perpaduan sistem agribisnis tersebut akan membentuk suatu jaringan sistem agribisnis yang terpadu horizontal maupun spesial. Oleh karena itu kelangsungan hidup suatu perusahaan agribisnis sangat tergantung pada kelangsungan perusahaan agribisnis lainnya. Dengan demikian kebijaksanaan pertanian tidak tepat bila didasarkan pada pendekatan komoditas.

Salah satu ciri agribsisnis adalah sifatnya berorentasi pasar. Pasar produk-produk agribisnis tergolong yang paling ketat persaingannya. Oleh karena itu , pasar produk-produk agribisnis tergolong pasar pembeli (buyer market). Tanda pasar pembeli adalah konsumen manjadi raja. Suatu persyaratan agribisnis dapat bertahan apabila mampu mengusahakan produknya dengan kebutuhan konsumen, sehingga konsumen merupakan suatu komponen utama dari jaringan sistem agribisnis.

Secara tradisional, para ahli berpendapat bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang terisolir, yang kurang dipengaruhi oleh keadaan perekonomian makro maupun perekonomian global. Pendapat demikian tidak tepat lagi diterapkan dikondisi saat ini. Sejak pertengahan tahun 1970-an , para ahli mulai sadar bahwa sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian makro maupun perekonomian global (Schuch, 1988; Chambers and Just, 1982; Nainggolan, 1988). Beberapa variabel perekonomian makro yang cukup berpengaruh terhadap sektor perekonomian, pertanian dan agribisnis secara keseluruhan adalah nilai tukar, suku bunga, kredit perbankan, pengeluaran pemerintah dan inflasi. Oleh karena itu kondisi perekonomian makro merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan sistem agribisnis.

Ketersediaan prasarana merupakan kunci perkembangan agribisnis. Beberapa prasarana strategis bagi perkembangan agribisnis, seperti jaringan irigasi, jalan raya dan pasar merupakan barang publik yang harus dibangun oleh pemerintah. Apabila prasarana tersebut tidak tersedia maka agribisnis tidak akan berkembang dengan baik. Oleh karena itu prasarana merupakan salah satu komponen dari jaringan sistem agribisnis.

Komponen jaringan agribisnis lainnya adalah lembaga penunjang seperti kebijaksanaan pemerintah, penyuluhan, pendidikan dan penelitian. Kebijaksanaan pemerintah merupakan kunci perkembangan agribisnis. Penyuluhan berperan dalam dimensi teknologi dan informasi ekonomi yang sangat diperlukan oleh agribisnis. Pendidikan sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan manajemen dan penguasaan teknologi agribisnis. Penelitian berperan sebagai peramu teknologi, perumus kebijaksanaan dan penyedia informasi ekonomi yang diperlukan untuk mengembangkan agribisnis.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa agribisnis merupakan suatu jaringan sistem komoditas.Tidak satupun usaha agribisnis yang hidup terisolir tanpa dipengaruhi oleh usaha agribisnis lainnya maupun oleh faktor-faktor eksternal lainnya. Usahatani merupakan salah satu komponen dari jaringan sistem terpadu yang merupakan kunci utama dari pendekatan agribisnis.

Fokus Penelitian

Tujuan utama pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya pertanian dan pendapatan petani serta kesempatan kerja tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Hal ini dapat diartikan sebagai upaya menggeser pertanian subsisten menjadi pertanian komersial tanpa melupakan kepentingan lainnya. Permasalahan orentasi ini semakin menonjol, mengingat potensi sumberdaya pertanian semakin berkurang, sebaliknya kebutuhan akan produksi pertanian semakin meningkat dari waktu kewaktu.

Penelitian memberikan alternatif kebijaksanaan dan paket teknologi sistem agribisnis, untuk membantu pencapaian suatu tujuan. Penelitian agribinsis merupakan penelitian terpadu. Oleh karna itu fokus penelitian agribisnis harus mengarah pada pemecahan masalah, memberikan arah dan alternatif strategis pembangunan pertanian. Penelitian dan pengembangan pertanian berorentasi agribisnis hendaknya berpartisipasi mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pertanian secara aktif. Fokus penelitian agribisnis pada tahap perencanaan pembangunan, upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembangunan dan mengevaluasi hasil pembangunan.

Pada tahap perencanaan, penelitian harus mampu menunjukkan potensi sumberdaya, memberikan alternatif pendayagunaannya dengan merekayasa paket teknologi maju spesifik lokasi, serta merumuskan alternatiF kebijaksanaan untuk mepercepat penguasaan dan alih teknologi. Dalam pemilihan alternatif sering timbul permasalahan dalam penguasaan sumberdaya . Oleh sebab itu penelitian harus mampu menunjukkan keterkaitan aktifitas pembangunan, baik yang bersifat vertikal, horizontal maupun bersifat komplementer. Ini berarti bahwa penelitian harus berada didepan untuk membantu perencanaan pembangunan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian harus berada pada semua tahap kegiatan dalam sistem agribisnis terpadu (Kasryno, et al., 1983).

Kegiatan pembangunan ekonomi berjalan diberbagai daerah dengan kondisi daerah yang belum tentu sama dengan lainnya. Ini berareti bahwa kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembangunan dapat berbeda satu dengan lainnya. Berdasarkan penelitian seperti ini , penelitian dilaksanakan pada semua daerah sehingga permasalahan yang dihadapi dapat diketahui untuk dicapai pemecahannya. Dan karena permasalahan pembangunan ekonomi itu harus bersifat komprehensip diseluruh wilayah Nusantara.

Penelitian pertanian dengan pendekatan agribisnis (P3A) merupakan suatu metode penelitain yang berdasarkan pada konsep agribisnis secara utuh yaitu agribisnis sebagai jenis usaha ekonomi dan sebagai jaringan sistem terpadu. Pokok-pokok pikiran yang melandasi P3A ini ialah usahatani merupakan suatu usaha agribisnis yang rasional, usahatani yang berorentasi pada pasar dan usahatani merupakan salah satu komponen dari jaringan sistem agribisnis terpadu.

Usahatani sebagai usaha agribisnis yang rasional mempunyai dua cara pokok: 1) Usahatani diarahkan untuk memaksimalkan keuntungan bersih dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya pertanian wilayah dan penerapan paket teknoogi maju berwawasan lingkungan. Ciri-ciri seperti ini sesuai dengan arahan pembangunan pertanian pada era reformasi ini yang berorentasi pada peningkatan pendapatan petani secara berkelanjutan dan dinamis. Disamping itu ciri-ciri yang demikian juga cocok dengan kondisi perekonomian yang semakin terderegulasi yang diantaranya ditandai pengurangan subsidi usahatani. Peningkatan teknologi maju pada keseluruhan mata rantai agribisnis akan menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi, sehingga mempunyai keunggulan kompetitif wilayah. Dengan demikian akan mendorong saling ketergantungan antara wilayah Nusantara. 2) Petani memiliki kebebasan untuk memilih komoditas, teknologi dan manajemen usahatani. Ciri ini sesuai dengan Undang-undang sistem budidaya tanaman yang ditetapkan pada tahun 1992 dan cocok pula dengan kebijaksanaan deregulasi yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Usahatani berorentasi pasar mengandung arti bahwa orientasi produksi usahatani yang menghasilkan komoditas unggulan yang berdaya saing tinggi adalah untuk dijual dan sarana produksi diperoleh (dibeli) dari pasar. Ciri seperti ini merupakan cermin keberhasilan usahatani di Indonesia pada saat ini dan sesuai dengan Undang-undang dan pandangan bahwa usahatani merupakan agribisnis yang rasional.

Usahatani berorentasi pasar ditunjukkan oleh manajemen dan eksistensi usahatani yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Ciri utama dari pasar komoditas pertanian adalah persaingan yang sangat ketat, oleh karena itu efisiensi ekonomi produksi merupakan kunci utama bagi eksisten usahatani. Disamping itu pasar komoditas usahatani senantiasa didasarkan pada permintaan konsumen. Karena permintaan konsumen itu bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan sosial ekonomi mereka, maka penelitian agribisnis harus dapat meprediksi perilaku pasar dimasa datang sehingga komoditas yang akan diproduksi sesuai dengan perilaku pasar tersebut. Investasi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen merupakan kunci bagi eksistensi usahatani.

Pandangan bahwa agribisnis merupakan usaha ekonomi rasional yang berorentasi pasar mempunyai spesifikasi terhadap pola penelitian pengembangan teknologi pertanian dan analisis mikro ditingkat usahatani. Pengembangan teknologi hendaknya lebih dirasakan pada upaya untuk mengatasi persoalan ekonomi yang dihadapi. Pola pengembangan teknologi yang demikian disebut induced innovation (Hayami and Ruttan, 1971). Dengan kata lain pengembangan teknologi merupakan upaya untuk keuntungan dan efisiensi ekonomi usahatani wilayah. Peningkatan produktivitas belum tentu dapat meningkatkan keuntungan maupun efisiensi ekonomi.

Pendekatan pembangunan pertanian yang berorentasi pada sistem agribisnis terpadu dan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertanian wilayah memerlukan teknologi pertanian yang dapat memenuhi kedua pendekatan ini. Untuk itu setiap wilayah /Propinsi/Kabupaten dihadirkan unit kerja Badan Litbang Pertanian dengan sasaran mampu merakit paket teknologi sistem agribisnis sehingga dapat menghasilkan komoditas pertanian andalan Prropinsi atau Kabupaten dan mempunyai keunggulan kompetitif sehingga berdaya saing tinggi dipasar dalam dan luar negeri.

Pembangunan teknologi bertambah penting mengingat sumber daya pertanian semakin terbatas, sedangkan kebutuhan hasil pertanian semakin menimngkat. Pengembangan teknologi pertanian tidak hanya untuk mengatasi permasalahan masa kini, tetapi juga untuk mengatasi masalah yang akan muncul dikemudian hari. Kejenuhan teknologi peningkatan produksi dan produktivitas komoditas padi sawah yang dialami di Indonesia pada saat ini seharusnya telah diantaisipasi sejak beberapa tahun yang lalu, sehingga diperoleh alternatif pemechannya. Dengan berorentasi masa depan, masalah-masalah pertanian seperti itu dapat diperkecil.

Analisis mikro dalam perspektif P3A didasarkan pada asumsi dasar bahwa petani adalah bebas untuk mengambil keputusan dalam meningkatkan pendapatannya. Oleh karena itu analisis makro usahatani akan lebih didominasi oleh analisis sosial ekonomi. Aspek penelitian teknis seperti penelitian penemuan teknologi dan penelitian tanah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan karena merupakan derivesi dari analisis ekonomi. Penelitian teknik harus mengacu kedepan yang dilandasi oleh pemikiran efisiensi sumberdaya pertanian wilayah.

Sebagai salah satu komponen dari jaringan sistem agribisnis yang sangat kompleks, usahatani tidak berada dalam isolasi, melaikan sangat tergantung pada unsur-unsur jaringan sistem agribisnis. Persoalan agribisnis atau usahatani tidak dapat diatasi dengan hanya memperbaiki keadaan usahatani. Dalam konteks yang lebih luas, persoalan pembangunan pertanian tidak hanya dapat diatasi melalui upaya-upaya perbaikan didalam sektor pertanian. Kebijaksanaan pembangunan pertanian harus dilaksanakan dalam perspektif sistem perekonomian nasional (makro) dan global. Penelitian dan pengembangan pertanian harus dirumuskan dan dilaksanakan dengan mempergunakan konsep jaringan sistem agribisnis terpadu. Perumusan masalah dan cakupan penelitian harus didasarkan hasil eksplorasi jaringan sistem agribisnis dengan metode analisis yang didasarkan pada konsep agribisnis terpadu. Mengingat betapa luasnya komponen jaringan sistem agribisnis tersebut maka penelitiannya harus dilaksanakan secara interdisipliner diwilayah.

Salah satu contoh yang menarik untuk menggambarkan urgensi penelitian dan dengan pendekatan sistem agribisnis terpadu adalah penelitian ushatani tebu. Tebu selain diolah menjadi gula pasir juga dioleh manjadi gula merah. Harga gula pasir ditentukan melalui kebijaksanaan pemerintah, sedangkan harga gula merah berdasarkan harga pasar. Input produksi tebu dibeli dari pasar dengan pembiayaan sebagian atau seluruhnya diperoleh melalui kredit dari pemerintah. Bahkan sebagian petani ada yang berfungsi ganda, selain sebagai petani juga menjadi pengolah gula merah dan atau pedagang tebu (Manurung dan Hidayat, 1992). Dari sini dapat dilihat bahwa aspek usahatani tebu tersebut begitu luas dan kompleks sehingga jika kita ingin memecahkan masalah usahatani tersebut, maka pendekatan agribisnis merupakan jawaban. Dikatakan demikian karena dengan pendekatan seperti ini kita dapat mengetahui subsistem atau aspek mana yang menjadi bottle neck dalam sistem ekonomi (usahatani) tersebut.

Penelitian agribisnis selain berorentasi mencari komoditas berdsarkan permintaan pasar, intensif teknologi dan berdaya saing tinggi, juga hartus mampu mengestimasi kekuatan pasar serta meprediksi komodtas yang dibutuhkan oleh pasar yang akan datang. Dahl and Harmond (1977) menyatakan bahwa agar sistem ekonomi dapat berjalan secara efisien, diperlukan informasi pasar. Informasi pasar meliputi perilaku rasional monsumen dan produsen dalam pengambilan keputusan ekonomi, seperti perilaku harga. Harga bervariasi disemua pasar dan walaupun semua pedagang berada dalam satu pasar, tidak seorangpun pembeli dapat mengetahui harga jual tanpa melakukan penelitian tentang informasi harga tersebut. Informasi harga tidak hanya menyatakan atau menyangkut harga output tetapi juga harga input yang digunakan dalam proses produksi tersebut. Variasi harga ini begitu besar dalam komoditas pertanian. Oleh sebab itu untuk mengembangkan agribisnis pengetahuan informasi pasar sangat penting.

Sentra produksi pertanian dan komoditas pertanian unggulan wilayah/Propinsi dan Kabupaten tersebar begitu luas dan umumnya jauh dari fihak konsumen. Kegiatan agribisnis berusaha mendekatkan produk pertanian kepada pihak konsumen akhir, dengan mengembangkan teknologi maju pada keseluruhan matarantai agribisnis, selain pasar international. Penelitian agribisnis ini sangt luas dan terkait satu dengan lainnya.

Kesimpulan

Ada perubahan pendekatan pembangunan pertanian dari pendekatan komoditas menjadi pendekatan optimalisasi kegiatan sumberdaya pertanian dengan penerapan teknologi maju dengan sistem agribisnis terpadu. Agribisnis dilakukan untuk mendorong kegiatan yang bersifat backwardlinkages terhadap pertanian dan kegiatan ekonomi yang bersifat farwardlinkages yang mengarah pada konsumen akhir, pasar produk agribisnis tergolong yang paling ketat persaingannya dan kelangsungan hidup suatu perusahaan agribisnis sangat tergantung pada kelangsungan perusahaan agribisnis lainnya. Penelitian memberikan alternatif kebijaksanaan dan paket teknologi sistem agribisnis untuk membantu pencapaian suatu tujuan dan penelitian agribisnis merupakan penelitian terpadu, oleh karena itu fokus penelitian agribisnis harus mengarah pada pemecahan masalah, memberikan arah dan alternatif strategis pembangunan pertanian dan usahatani berorentasi pasar ditunjukkan management dan eksistensi usahatani yang sangat dipengaruhi kondisi pasar dengan ciri utamanya adalah persaingan ketat, oleh karena itu efisiensi ekonomi produksi merupakan kunci utama bagi eksistensi usahatani. (Sutrisno, Peneliti pada Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati).

Daftar Pustaka

Chambers,R.C and R.E.Just. 1982. An investigation of the effects of monetery factors on agricultutra. Journal Monetery Economics. 9:235-247.

Dahl,D.C and J.W.Hammond. 1997. Market and Price Analisis. The Aghricultuiral Industries. Mc Graw-Bill Book Company New York;

Davis.J.HH and R.A.Golberg. 1977. A. Concept of Agribusine. Graduate School of Busines Administration, Harvard University;

Desai,D.E. 1974. Evaluasion of concept of agribusine and its application. Indian juornal of Agricultural Economic. 29(4):32-43;

Dillon,J.D. 1971. Agribusines Management Resource Materials (vol 1). Asian Productivity Management Organization;

Golberg,R.A and R.C.Mc Ginity. 1979. Agribusines Management of Developing Countries-Soutriest Asian Corn System and American and Japanese Trends Affecting it. Balinger Publishing Company;

Hayami,Y and V.W.Ruttan. 1991. Agricultural Development. John Hopkins University Pres, Baltimore;

Kasryono,F and A.Suryana. 1992. Long-term planing for agricultutral development realted to powerty alleviation in rural areas. In E.Pasandaran,A.Pakpahan,E.B.Oyer and N.Uphoff (Eds), Poverty Allevistion with Sustainable agricultural and Rural Development in Indonesia,p.60-74. Center for Agro-Socio Economic Research (CASER) and Cornell International Institut for Food, Agriculture and Development (CIIFAD).

Kasryno,F. Pantjar Simatumpang dan Victor T.Manurung. 1993. Penelitian Pertanian dengan Pendekatan Agribisnis. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Vol XII. Nomor 4;

Kinsey. 1987. Agribusines and Rural Enterprise Croom Hellm. New York;

Manurung,V.Y dan Hidayat,N. 1992. Usaha gula merah dan persaingannya dengan pabrik gula dengan penyediaan bahan baku di Jawa Timur. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 9(1)Juli 1991;

Nainggolan,K. 1988. Macroekonomic impests on Indonesia agricultural exports. Ekonomi Keuangan Indonesia: 36(2):163-189;

Schuch,E.G. 1974. The exchange rate and U.S. Agricultural. American Juornal Agricultural Economics: 56:1-13.

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction