IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Kelulusan Ujian Nasional Sekolah Menengah di Kabupaten Pati

Ujian Nasional (UN) diselenggarakan oleh pemerintah memiliki beberapa tujuan dan satu diantaranya untuk standarisasi mutu pendidikan di Indonesia. UN Sekolah Menengah di Kabupaten Pati Tahun 2006/ 2007 di ikuti oleh 89 sekolah meliputi 25 SMA; 47 MA dan 17 SMK. Total peserta UN dari 89 sekolah menengah berjumlah 10623 siswa. Peserta yang dinyatakan lulus UN sebanyak 9691 orang (91,2 %) dan siswa yang dinyatakan tidak lulus berjumlah 932 orang (8,8 %).

Namun permasalahannya adalah lebih dari sepertiga siswa tidak lulus (319 dari 932 orang) berasal dari 3 sekolah yakni: 118 orang dari SMA PGRI 3 Tayu; 114 orang dari SMA Nasional dan 87 orang dari SMA Muhammadiyah 1. Berdasarkan hasil ini maka ketiga sekolah tersebut perlu diklarifikasi baik eksistensinya maupun manajemennya. Kemudian klarifikasi juga dilakukan pada faktor eksternal yang berdampak pada kejadian tersebut.

Setelah dilakukan klarifikasi, tiga sekolah obyek utama penelitian (SMA PGRI 3 Tayu ,SMA Nasional Pati, dan SMA Muhammadiyah 1 Pati ) termasuk sekolah yang memiliki banyak siswa. Banyaknya siswa ini mengindikasikan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut. Hasil UN tahun-tahun sebelunnya, Sekolah tersebut juga cenderung baik. Manajemen sekolah menurut responden, berjalan dengan baik. Di Sekolah tersebut selain pembelajaran reguler sesuai jadwal pagi hari, ada penambahan pembelajaran ektra (les) sore hari untuk Mata Pelajaran (Mapel) UN. Singkatnya manajemen sekolah dan eksistensi 3 sekolah obyek utama penelitian (SMA PGRI 3 Tayu ,SMA Nasional Pati, dan SMA Muhammadiyah 1 Pati ) menunjukkan kondisi baik.

Kemudian klarifikasi dilakukan pada faktor eksternal. Hasil klarifikasi faktor-faktor ekaternal sebagai berikut: Pertama, sebelum UN berlangsung ada fenomena penyebaran kunci jawaban UN. Fenomena ini mulai muncul sekitar dua minggu sebelum UN berlangsung di SMA PGRI 3 Tayu dan 2 hari menjelang UN di SMA Muhammadiyah 1 Pati. Sementara fnomena tersebut di SMA Nasional menurut responden tidak ada. Fenomena itu menurut Kepala SMA Muhammadiyah 1 Pati, sulit dieliminasi oleh pihak sekolah walaupun sudah mulai tampak kejanggalan yakni kunci jawaban mata pelajaran tertentu berjumlah 60 buah padahal soal UN lazimnya kurang dari 60 soal. sekolah merasa kesulitan untuk menyadarkan para siswa karena mereka terlanjur yakin bahwa itu kunci jawaban UN.

Kedua, saat UN SMA berlangsung. Siswa yang menjadi responden mengaku bahwa bobot soal ujian atau tingkat kesulitan soal pada taraf wajar, tidak terlalu sulit. Mereka juga mengakui bahwa mereka gagal karena tidak berfikir optimal setelah mereka mendapat short message service (SMS) yang dianggap berisi kunci jawabanUN. Siswa dri SMA Nasional, SMA Muhammadiyah 1 dan SMA PGRI 3 Tayu yang menjadi responden penelitian ini mengaku bahwa mereka saling memberi jawaban melalui SMS. Ada juga responden yang mengatakan bahwa kefatalan yang terjadi di SMA PGRI 03 adalah kunci jawaban yang seharusnya untuk peserta nomor genap diberikan pada peserta nomor ganjil atau sebaliknya.

Ketiga, kesalahan teknis penyelenggaraan UN. Kepala Sekolah PGRI 3 Tayu mengatakan bahwa ada kekeliruan pembagian soal ujian. Soal yang semestinya untuk peserta nomor genap diberikan pada peserta nomor ganjil dan sebaliknya. Permasalahan ini timbul sebagi akibat kesalahan pengepakan soal yang mengakibatkan kekeliruan pemberian soal untuk peserta. Hal serupa terjadi juga pada SMA Muhammadiyah 1 Pati. Selain itu ada pengawas yang menarik / meminta lembar jawaban UN sebelum waktu habis di SMA PGRI 3 Tayu. Faktor teknis ini mengakibatkan buruknya konsentrasi siswa dan berkurangnya waktu untuk mengerjakan soal UN. Hal ini diduga menimbulkan hasrat siswa mengambil jalan pintas yakni mengikuti isi SMS tanpa melakukan cross-check pada soal UN.

Keempat, kasus beredarnya SMS sebenarnya tidak hanya terjadi pada tiga sekolah tersebut tetapi juga pada sekolah lain termasuk SMA Negeri di Pati. Siswa SMA N 1 Batangan yang menjadi responden penelitian ini mengaku bahwa di sekolahnya juga terjadi kasus yang sama, penyebaran treansfer jawaban melalui SMS saat UN berlangsung. Namun para siswa dari SMA Negeri cenderung melakukan cross-check pada soal UN. Setelah di check pada beberapa soal isi SMS tidak sesuai dengan pemikiran siswa, lalu pesan (SMS) mereka abaikan.

Berdasarkan temuan tersebut, ada perbedaan umum antara siswa dari sekolah target penelitian dengan sekolah lain. Siswa di tiga sekolah yang menjadi target penelitian ini tampak tidak percaya diri sehingga menjawab soal UN sesuai dengan isi SMS yang mengakibatkan banyak siswa gagal UN. Sementara itu siswa dari sekolah lain tampak lebih percaya diri dan melakukan checking terhadap soal sehingga siswa tidak terbawa / percaya pada isi SMS tersebut sehingga tidak berakibat fatal / gagal UN secara massal.

Kemudian perlu disadari bahwa banyak siswa yang memiliki kesempatan mengaktifkan handphone saat UN berlangsung merupakan kelemahan penyelenggaraan UN di Kabupaten Pati. Selain itu banyaknya siswa yang tidak percaya diri menunjukkan lemahnya hasil capaian pendidikan pada sekolah tersebut terutama pada pengembangan sikap. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan langkah berikut. Pertama, siswa agar mengembangkan rasa percaya diri dan berfikir optimal dalam mengerjakan soal UN dan sedapat mungkin mengendalikan diri agar tidak mengambil jalan pintas. Kedua, sekolah agar membuat pembatasan siswa membawa handphone atau setidaknya melarang mengaktifkan handphone di kelas khususnya saat ujian atau test sedang berlangsung. Ketiga, Dinas Pendidikan Pati perlu membuat aturan untuk mengeliminasi kemungkinan terjadinya kasus yang serupa di waktu mendatang, dan bila perlu larangan mengaktifkan handphone di kelas selama jam sekolah. Keempat, para guru dan pengawas perlu menjalankan tugas pengawasan UN sesuai aturan dan menjaga kedisiplinan. Kelima, kasus transfer jawaban melalui SMS telah terjadi di berbagai sekolah, maka pemerintah perlu mensikapi hal tersebut dengan tujuan memperbaiki kualitas pendidikan secara umum di masa mendatang. (Suroso, Peneliti pada Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati).

 

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction