IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Konstruksi dan Kualitas Air Sumur Gali di Sekitar Sungai Suwatu Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati

PENDAHULUAN

Masalah penyediaan air bersih menjadi salah satu prioritas dalam perbaikan derajat kesehatan masyarakat, mengingat keberadaan air sangat vital bagi makhluk hidup. Arya (2001) menyebutkan bahwa air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk dan pesatnya pembangunan, maka kebutuhan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan juga semakin meningkat. Kualitas air bersih mempunyai beberapa persyaratan diantaranya: biologis, fisik, kimia dan radioaktif. Salah satu sarana air bersih yang ada dan masih digunakan masyarakat di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati adalah sumur gali.  

Keberadaan sentra industri tepung tapioka di lokasi tersebut dapat memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian yaitu terciptanya lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi pengangguran, namun di lain pihak juga menghasilkan limbah dalam bentuk polusi udara dengan bau yang menyengat dan pencemaran air. Limbah cair pabrik tapioka di Desa Ngemplak Kidul dan sekitarnya dibuang begitu saja ke salah satu sungai sungai yaitu Sungai Suwatu. Pembuangan limbah cair ke Sungai Suwatu secara terus menerus dapat menyebabkan perubahan kualitas air sungai dan air sumur gali.

Pencemaran air sumur gali dapat terjadi  melalui peresapan tanah. Sementara, salah satu cara menjaga kualitas air sumur gali adalah dengan pembuatan kontruksi sumur yang memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian bertujuan untuk menggambarkan konstruksi dan kualitas air sumur gali di sekitar Sungai Suwatu Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati berdasarkan parameter fisik (bau, rasa, dan warna), parameter kimia (sianida) dan parameter bakteriologis (total coliform)  

KAJIAN PUSTAKA

Sumur Gali

Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan siklus hidrologi (hydrologie cycle). Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam melainkan bersirkulasi akibat pengaruh cuaca, sehingga terjadi suatu siklus yang disebut siklus hidrologi. Berdasarkan siklus hidrologi, sumber air dapat diklasifikasikan menjadi air hujan, air permukaan, air tanah, dan mata air (Sutrisno, 2004).

Air hujan merupakan penyubliman awan atau uap air murni yang ketika turun dan melalui udara akan melarutkan benda-benda yang terdapat di udara. Sementara, yang termasuk ke dalam kelompok air permukaan adalah air yang berasal dari sungai, selokan, rawa, parit, bendungan, danau, laut dan sebagainya. Air tanah (ground water) merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah pada daerah akifer yang terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah yang terdapat pada kedalaman ± 15 m. Sedangkan air tanah dalam terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam tidak semudah seperti pada air tanah dangkal. Hal ini disebabkan karena harus melalui pengeboran dengan memasukkan pipa sampai kedalaman 100 - 300 m. Jika tekanan air tanah ini besar, maka air dapat menyembur keluar dan disebut sebagai sumur artesis. Sementara itu, mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. 

Sumur gali merupakan bangunan penyadap air atau pengumpul air tanah dengan cara menggali yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu sumber air bersih dengan ke dalam sumur bervariasi antara 5 – 20 m dari permukaan tanah dan ini tergantung pada kedudukan muka air tanah setempat serta morfologi daerah. 

Menurut Ditjen PPM dan PLP (1995), kualitas fisik sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan bagi penyediaan air bersih adalah; Pertama, syarat lokasi pembuatan sumur;  (a) untuk menghindari pencemaran langsung harus memperhatikan jarak antara sumur dengan lubang sampah dan dengan lubang galian untuk air limbah, jaraknya adalah 10 m dan diusahakan agar letaknya tidak berada di bawah tempat-tempat sumber pencemaran; (b) dibuat di tempat yang ada airnya di dalam tanah; (c) jangan dibuat di tanah yang rendah yang mungkin terendam bila terjadi banjir atau hujan. Kedua, syarat konstruksi; (a) dinding sumur 3 m dalamnya dari permukaan tanah dan dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar tidak terjadi rembesan; (b) lantai harus kedap air dengan lebar minimal 1 meter dan miring agar air mudah mengalir ke saluran air limbah; (c) diatas tanah dibuat tembok (bibir sumur) yang kedap air minimal 80 cm untuk mencegah pengotoran dari permukaan dan untuk keselamatan si pemakai; (d) jika pengambilan air dengan timba, sebaiknya selalu digantung dan tidak diletakkan di lantai sumur; (e) saluran pembuangan air limbah di sekitar sumur dibuat dari tembok kedap air yang panjangnya minimal 10 m atau dibuat lubang dengan menggali tanah sepanjang 10 m atau lebih.

Kualitas Air  

Menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Standar Kualitas Air Bersih, yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Pada dasarnya air bersih harus memenuhi syarat kualitas yang meliputi syarat biologi, fisika, kimia, mikrobiologis, dan radioaktif.    

Pertama, biologis berarti air bersih tidak mengandung mikroorganisme yang nantinya menjadi infiltran tubuh manusia. Mikroorganisme terbagi dalam empat grup yaitu: parasit, bakteri, virus, dan kuman. Dari keempat jenis mikroorganisme tersebut, umumnya yang menjadi parameter kualitas air adalah bakteri seperti Eschericia coli.

Kedua, fisik air bersih terdiri dari kondisi fisik air dan pada umumnya derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, dan bau. Aspek fisik ini sesungguhnya selain penting untuk aspek kesehatan langsung yang terkait dengan kualitas fisik seperti suhu dan keasaman tetapi juga penting untuk menjadi indikator tidak langsung pada persyaratan biologis dan kimiawi, seperti warna, air, dan bau.

Ketiga, kimia menjadi penting karena banyak sekali kandungan kimiawi air yang   menyebabkan akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuai dengan proses biokimiawi tubuh. Bahan kimiawi seperti nitrat, arsenik, dan berbagai macam logam berat khususnya air raksa, timah hitam, dan kadmium dapat menjadi gangguan pada tubuh. Termasuk dalam syarat kimia adalah sianida. Sianida merupakan bahan kimia yang banyak terdapat pada singkong sebagai bahan baku tepung tapioka.

Keempat, radioaktif sering dimasukkan sebagai bagian persyaratan fisik, namun sering juga dipisahkan karena jenis pemeriksaannya sangat berbeda dan pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti di sekitar reaktor nuklir.

Sumber Pencemaran Air

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, yang dimaksud dengan pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat   berfungsi   sesuai  dengan peruntukannya. Sumber pencemar yang paling umum berasal dari pertanian, permukiman, dan limbah industri.   

Air tanah yang telah tercemar pada umumnya sukar sekali dikembalikan menjadi air bersih. Penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan serta sisa pestisida di perairan dapat meresap ke dalam tanah, sehingga mencemari air tanah. Permukiman juga menghasilkan limbah, misalnya sampah dan air buangan. Air buangan dari permukiman umumnya mempunyai komposisi yang terdiri dari ekskreta (tinja dan urin), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dimana sebagian besar merupakan bahan-bahan organik. Limbah permukiman tersebut, jika tidak diolah dapat mencemari air permukaan, air tanah, dan lingkungan hidup. Pembuangan limbah industri ke sungai menyebabkan air sungai tercemar. Bahan pencemar yang berasal dari limbah industri dapat meresap ke dalam air tanah yang menjadi sumber air untuk minum, mencuci, dan mandi.

Proses produksi tapioka memerlukan banyak air untuk memisahkan pati dari hasil parutan ubi kayu. Pati yang larut dalam air harus dipisahkan. Proses produksi industri tapioka dari awal proses sampai dihasilkan tepung tapioka menurut Direktorat PPHP (2005) adalah sebagai berikut: (1) pengupasan dilakukan dengan cara manual, bertujuan untuk memisahkan daging singkong dari kulitnya. Selama pengupasan, sortasi juga dilakukan untuk memilih singkong berkualitas tinggi dari singkong lainnya. Singkong yang kualitasnya rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan pakan ternak. (2) pencucian dilakukan dengan cara manual yaitu dengan meremas-remas singkong di dalam bak yang berisi air, bertujuan untuk memisahkan kotoran pada singkong. (3) parut yang digunakan untuk pemarutan ada 2 macam yaitu parut manual (dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia sepenuhnya) dan parut semi mekanis (digerakkan dengan generator). (4) pemerasan/ekstraksi dilakukan dengan 2 cara yaitu: pertama, pemerasan bubur singkong yang dilakukan dengan cara manual menggunakan kain saring, kemudian diremas dengan menambahkan air dimana cairan yang diperoleh adalah pati yang ditampung di dalam ember. Kedua, pemerasan bubur singkong dengan saringan goyang (sintrik). Bubur singkong diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. Pada saat saringan tersebut bergoyang, kemudian ditambahkan air melalui pipa berlubang. Kemudian pati yang dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan, (5) pati hasil ekstraksi diendapkan dalam bak pengendapan selama 4 jam. Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan dikeringkan. Dan (6) sistem pengeringan menggunakan sinar matahari dilakukan dengan cara menjemur tapioka dalam nampan (widig) atau tambir yang diletakkan di atas rak-rak bambu selama 1-2 hari (tergantung dari cuaca). Tepung tapioka yang dihasilkan sebaiknya mengandung kadar air 15-19%.

Proses produksi tapioka menghasilkan limbah cair. Zat kimia yang khas dalam limbah cair tapioka adalah sianida. Sianida terdapat secara alami pada ubi kayu atau singkong yang merupakan bahan baku industri tapioka sehingga sianida dihasilkan pada hampir seluruh tahapan proses produksi tapioka. Mulai dari pengupasan kulit, pencucian bahan baku, hingga proses pengendapan pati, dan pemisahan ampas serta serat kasarnya. Namun sebagian besar sianida akan terpisahkan dan menjadi limbah pada waktu proses pencucian dan pengendapan. Jika sianida yang terbentuk ini terkonsentrasi, kemudian   tidak   diolah   secara   tepat sebelum dibuang ke badan air atau tanah, maka akan menimbulkan efek pencemaran yang serius (http://www.scribd.com.). 

Effendi (2003) menyebutkan bahwa sianida dapat menghambat pertukaran oksigen pada makhluk hidup. Sianida bersifat toksik bagi ikan. Pada kadar 0,2 mg/liter sudah mengakibatkan toksisitas akut bagi ikan. Menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Persyaratan kualitas air bersih menyebutkan sianida maksimum yang diperbolehkan ada dalam air bersih sebesar 0,1 mg/l.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha untuk menggambarkan secara sistematis situasi atau kejadian tertentu (Azwar, 2003). Penelitian ini dilakukan di sepanjang Sungai Suwatu Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Pengambilan data berlangsung pada Bulan April 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah pemilik sumur gali yang berjarak < 20 m dari Sungai Suwatu sebanyak 20 Sumur gali. Sampel air dibatasi sebanyak 6 buah sumur gali dengan teknik pengambilan sampel secara purposif. Berdasarkan lokasi, 2 sampel sumur berada di Desa Ngemplak Kidul, 1 sampel di Desa Sekarjalak dan 3 sampel sumur di Desa Bulumanis Kidul.

Pengumpulan data primer dengan cara observasi, kuesioner dan pemeriksaan laboratorium. Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung, sedangkan kuesioner dengan cara cek list untuk mengetahui kondisi fisik air sumur dan konstruksi sumur gali. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan kandungan sianida dan total coliform. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen dari instansi terkait dan literatur yang relevan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis data kualitas air sumur gali dibandingkan dengan Permenkes No.416/Menkes /Per/IX/1990 tentang Standar Kualitas Air Bersih.  

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Sumur Gali

Karakteristik sumur gali meliputi jarak sumur gali dengan Sungai Suwatu, jenis sumur gali yang menggunakan pompa atau timba dan kondisi konstruksi sumur gali. Jarak sumur gali dengan Sungai Suwatu dikategorikan menjadi 2 yaitu kurang dari 10 m dan 10-20 meter. Jenis sumur gali dibedakan berdasarkan cara pengambilan air sumur yaitu dengan menggunakan pompa listrik atau timba.


 Tabel 1.

Karakteristik Sumur Gali

Karakteristik  Sumur Gali

Frekuensi

Persentase

1.     Jarak sumur dengan sungai Suwatu

 

 

< 10 m

2

33,4

10- 20 m

4

66,6

2.    Alat pengambil air sumur

 

 

Pompa listrik

3

50

timba

3

50

                           Sumber: Data Primer, 2012


Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa sebanyak 4 sumur (66,6%) berjarak 10-20 m dari Sungai Suwatu. Jumlah sumur gali yang menggunakan pompa sama dengan yang menggunakan timba yaitu masing-masing tiga sumur atau 50%.

Konstruksi Sumur Gali

Penilaian konstruksi bangunan sumur gali dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap sembilan item pengamatan. Setiap item pengamatan mempunyai skor 1, sehingga rentang skor: 0–9. Berdasarkan rentang skor, bangunan

sumur gali diklasifikasikan dalam dua kategori; buruk (skor 0–4) dan baik (skor 5–9). Tabel 2 menunjukkan lebih dari separuh (66,6%) sumur gali kondisi konstruksinya buruk. Konstruksi sumur gali yang menjadi sampel dalam penelitian ini secara lengkap disajikan dalam tabel 3.


Tabel 2.

Konstruksi Sumur Gali

Karakteristik  Sumur Gali

Frekuensi

Persentase

Konstruksi sumur

 

 

baik

2

33,4

buruk

4

66,6

                                 Sumber: Data Primer, 2012

Tabel  3.

Distribusi Frekuensi Sumur Gali Berdasarkan Aspek Penilaian Konstruksi Sumur Gali

 

No

 

Konstruksi sumur gali

Ya

Tidak

Frekuensi

%

Frekuensi

%

1

Tidak memiliki sumber pencemar  berupa jamban  < 10 m

5

83,3

1

16,7

2

Tidak memiliki sumber pencemar  berupa kotoran

       
 

hewan/kandang ternak < 10 m

2

33,4

4

66,6

3

Bibir Sumur Kedap Air

5

83,3

1

16,7

4

Dinding Sumur minimal sedalam 3 m dari permukaan

       
 

lantai atau tanah, dibuat dari bahan kedap air dan kuat

4

66,6

2

33,4

5

Tinggi bibir sumur minimal 80 cm dari lantai

4

66,6

2

33,4

6

Bibir sumur diberi penutup

0

 0,0

6

100,0

7

Lantai Sumur Miring

3

50,0

3

50,0

8

Lantai sumur > 1 meter

3

50,0

3

50,0

9

Saluran Pembuangan Air Limbah Kedap Air

3

50,0

3

50,0

Sumber: Data Primer, 2012


Tabel 3 menunjukkan bahwa sebanyak lima sumur (83,3%) tidak memiliki sumber pencemar berupa jamban < 10 m, empat sumur (66,6%) tidak memiliki sumber pencemar berupa kotoran hewan/kandang ternak < 10 m, lima sumur (83,3%) memiliki bibir sumur kedap air, lima sumur (83,3%) memiliki dinding sumur minimal sedalam 3 m dari permukaan lantai kedap air dan kuat, empat sumur (66,6%) memiliki tinggi bibir  sumur  minimal  80  cm  dari  lantai,

enam sumur (100%) dengan bibir sumur tidak diberi penutup, tiga sumur (50%) lantainya miring dan lebar lantai sumur > 1 meter, tiga sumur (50,0%) memiliki saluran pembuangan air limbah kedap air.

Berdasarkan wawancara dengan pemilik sumur didapatkan data bahwa konstruksi sumur yang buruk dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan disebabkan karena kondisi ekonomi yang rendah sehingga pembangunan konstruksi sumur tidak diprioritaskan.

Kualitas Air Sumur Gali

1.    Kualitas Fisik  

Kualitas fisik air sumur gali yang diperiksa meliputi bau, rasa, dan warna. Hasil pengamatan terhadap 6 sampel air sumur gali menunjukkan bahwa semua air sumur tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Secara umum air sumur masih memenuhi syarat sebagai air bersih berdasarkan parameter kualitas fisik.

Kualitas fisik air sumur gali biasanya dipengaruhi oleh keadaan musim.  Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan pada musim penghujan. Berdasarkan wawancara dengan pemilik sumur, biasanya pada musim kemarau air sumurnya berbau dan berasa. Hal ini kemungkinan karena pada musim kemarau  produksi tepung tapioka meningkat karena bahan baku tersedia. Produksi tepung tapioka yang tinggi menghasilkan limbah yang tinggi. Limbah tersebut langsung dibuang ke sungai. Karena musim kemarau air sungai sedikit, maka limbah tidak langsung mengalir ke laut. Limbah yang menggenang akan menimbulkan bau yang menyengat. Kondisi ini yang kemungkinan menyebabkan air sumur gali berbau dan berasa pada musim kemarau. Keadaan ini menyebabkan pemilik sumur tidak menggunakan air sumurnya untuk keperluan sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka meminta tetangga yang sumber airnya dari sumur bor.

2.  Kualitas Kimia

Parameter kualitas air secara kimia yang diperiksa hanya sianida dengan pertimbangan sianida merupakan zat kimia khas yang terkandung dalam singkong sebagai bahan dalam pembuatan tepung tapioka. Zat kimia sianida ada dalam limbah cair tapioka. 

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap 6 sampel air sumur gali menunjukkan kandungan sianida terendah 0,02 mg/l dan tertinggi 0,09 mg/l dengan rata-rata 0,04 mg/l (Tabel 4). Menurut persyaratan kualitas air bersih Berdasarkan Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990, sianida maksimum yang diperbolehkan ada dalam air sebesar 0,1 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa air sumur gali penduduk masih  memenuhi persyaratan kualitas air bersih.

Kandungan sianida dalam air sumur gali yang lebih rendah dari kadar maksimal yang diperbolehkan kemungkinan karena pengambilan sampel dilakukan pada musim penghujan. Pada musim penghujan, produksi tepung tapioka hanya sedikit karena kurangnya bahan baku. Limbah yang dihasilkan juga sedikit dan langsung terbawa air ke laut sehingga tidak ada yang terggenang dan meresap ke sumur gali di sekitar Sungai Suwatu.  

2.    Kualitas Bakteriologis  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel air yang diperoleh dari sumur gali memenuhi kualitas bakteriologis (100%). Berdasarkan persyaratan kualitas air bersih Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990, total coliform maksimum yang diperbolehkan ada dalam air sebesar 50 mg/100 ml. Hal ini menunjukkan bahwa air sumur gali penduduk masih memenuhi persyaratan kualitas air bersih secara bakteriologis dan memberikan indikasi bahwa air sumur gali memenuhi standar untuk digunakan sebagai sumber air bersih.


 Tabel 4.

 Hasil Pemeriksaan Laboratrium Sampel Air Sumur Gali pada Bulan April 2012

UJI  LABORATORIUM

Kode  Sampel

Rata-rata

A

B

C

D

E

F

CN-Total Coliform

0,09

0,02

0,06

0,03

0,05

0,02

0,043

negatif

negatif

negatif

negatif

negatif

negatif

negatif

  Sumber: Data Primer, 2012


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.    Lebih dari separuh (66,6%) sumur gali di sekitar Sungai Suwatu Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati kondisi konstruksinya buruk.

2.    Kualitas air sumur gali di sekitar sungai Suwatu Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati masih memenuhi syarat sebagai air bersih berdasarkan parameter fisik (bau, rasa, dan warna), parameter kimia (Sianida) dan parameter bakteriologis (total coliform) Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990.

Saran

1.    Masyarakat perlu memperbaiki konstruksi sumur gali sesuai dengan persyaratan kesehatan untuk menjamin kualitas air sumur gali.

2.    Perlu dilakukan pemeriksaan kualitas air sumur gali pada musim kemarau untuk dibandingkan dengan kualitas air sumur gali pada musim penghujan.

DAFTAR PUSTAKA

Arya, W. W. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Azwar, S. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta: Pustaka Pelajar

Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman. 1995. Manual Teknis Upaya Penyehatan Air. Departemen Kesehatan. Jakarta.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian. 2005. Pengembangan Usaha Pengolahan Tepung Tapioka. Departemen Pertanian. Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Standar Kualitas Air Bersih.

Peraturan Pemerintah RI. No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, Jakarta.

Sianida Sebagai Limbah B3 pada Industri Tapioka. 2012. http://www.scribd.com. Diakses 2 Juni 2012.

Sutrisno, T. C dkk, 2004. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineka Cipta.

Biodata Penulis

Aeda Ernawati, SKM, Msi. lahir di kota Purworejo, 22 Nopember 1976. Lulusan Magister Gizi Masyarakat UNDIP, calon peneliti pada Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati.


 

Aeda Ernawati

Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati

E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction