IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Konsep Zero Waste Pada Agroindustri (Industri Pabrik Gula)

Pendahuluan

Limbah industri adalah bahan sisa yang dikeluarkan akibat proses industri (Anwar dan Suganda, 2009). Dalam industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri) seperti pabrik gula dihasilkan limbah padat, cair dan gas. Limbah agroindustri ini mengandung bahan terlarut yang tinggi sehingga memiliki nilai Biological Oxygen Demand (BOD) yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan penanganan limbah cair sebelum dibuang ke sungai. Produktivitas merupakan suatu sarana untuk mempromosikan sebuah produk atau jasa (Hapsari, 2011). Melalui produktivitas, sebuah industri dapat mengetahui tingkat kinerjanya sehingga industri tersebut dapat meningkatkan kinerjanya dan bersaing dengan industri yang bergerak di bidang yang sama. Oleh karena itu, produktivitas industri perlu terus ditingkatkan.

Solusi yang direkomendasikan saat ini untuk mengendalikan pencemaran limbah dengan tetap menjaga produktivitas adalah dengan menerapkan kebijakan nol limbah (zero waste) pada seluruh rantai produksi. Selain itu, untuk menyempurnakan kebijakan nol limbah dapat diterapkan pengelolaan dan pengolahan limbah yang dihasilkan untuk mengurangi tingkat bahaya limbah yang dihasilkan dan menciptakan nilai ekonomis dari limbah tersebut.

Agroindustri

Agroindustri berasal dari dua kata, agricultural dan industry yang memiliki makna suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya (Suprapto, 2003). Salah satu jenis agroindustri di Kabupaten Pati adalah pabrik gula (PG) yaitu PG. Trangkil dan PG. Pakis Baru. Keberlangsungan kedua pabrik gula tersebut didukung oleh hasil pertanian tebu yang termasuk komoditas utama pertanian di Kabupaten Pati sebagai bahan baku utama pabrik gula. Adapun produksi tanaman tebu di Kabupaten Pati disajikan pada tabel 1.


Tabel 1.

Luas Areal (Ha) dan Produksi Gula (Ton) di Kabupaten Pati

Tahun

Luas Areal (Ha)

Produksi Gula (ton)

2003

6.645

22.858

2005

8.153

39.243

2007

11.543

49.421

2009

11.553

49.900

2010

16.530

69.200

Total

54.424

230.622

Pertumbuhan

26,86 %

34,32 %

Sumber: BPS Kab Pati, 2004 – 2011.


Dari tabel 1, terlihat bahwa luas areal tanaman tebu mengalami pertumbuhan sebesar 26,86% selama kurun waktu tahun 2003-2010. Sebanding dengan kenaikan luas areal tanaman tebu, jumlah produksi gula juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 34,32% selama kurun waktu tahun 2003-2010. Hal ini berakibat pada peningkatan jumlah limbah pabrik gula. Menurut Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri  Rancang Bangun dan Rekayasa, dari sekitar 5 juta ton gula per tahun kebutuhan domestik, industri nasional hanya memenuhi 2,2 juta ton atau sekitar 44%. Untuk itu ditargetkan swasembada gula pada tahun 2014. Hal ini mulai direalisasikan dengan penambahan pabrik gula yang terus bertambah dari sekitar 50 pabrik gula pada tahun 1930 kini sudah ada 62 pabrik gula (Kompas, 2012).

Tanaman Tebu

Tebu (Saccharum officinarum) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra (Anwar, 2008).

Tebu merupakan salah satu tanaman pengumpul silikon (Si) yaitu tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Tebu menyerap Si sekitar 500-700 kg/ha lebih tinggi dibanding unsur-unsur lainnya. Sebagai pembanding, dalam kurun waktu yang sama tebu menyerap antara 100-300 kg K, 40-80 kg P, dan 50-500 kg N per ha (Yukamgo dan Yuwono, 2007). Tebu merupakan alternatif sumber energi yang potensial karena tebu menghasilkan biomassa berupa ampas tebu (baggase) dan daun tebu kering (daduk). Tebu juga tergolong sebagai tanaman yang paling efektif dalam mengubah energi matahari menjadi energi kimia dalam bentuk biomassa (Kurniawan dan Santoso, 2009).

Zero Waste

Zero waste adalah suatu konsep yang mendukung segala tindakan atau usaha agar sama sekali tidak menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan (Sarbi, 2008). Sedangkan menurut Sulaiman (2008), zero waste adalah aktivitas meniadakan limbah dari suatu produksi dengan cara pengelolaan proses produksi yang terintegrasi dengan minimisasi, segregasi dan pengolahan limbah. Penerapan zero waste penting dilakukan agar dampak negatif limbah dapat diminimalisir dan dampak yang menguntungkan dapat dimaksimalkan dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara sistem produksi dengan lingkungan hidup. Salah satunya dengan memanfaatkan limbah untuk dapat digunakan bagi keperluan industri yang bersangkutan atau dimanfaatkan sebagai bahan baku/bahan pembantu industri lainnya.

Berdasarkan jenis senyawanya, limbah pertanian merupakan jenis limbah organik karena mengandung unsur karbon (C). Hasil pembusukan limbah organik oleh mikroorganisme sebagian besar adalah berupa gas metan (CH4) yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Produk limbah yang dihasilkan dari pabrik gula berupa limbah padat (blotong, ampas tebu dan abu ampas tebu), limbah cair dan limbah gas. Termasuk produk samping yang memberikan potensi ekonomi.

Blotong

Blotong adalah limbah padat pabrik gula yang berasal dari stasiun pemurnian, berbentuk seperti tanah berpasir berwarna hitam, memiliki bau tidak sedap jika masih basah. Blotong masih memiliki sifat dan kandungan zat yang masih berguna dan bermanfaat. Disamping itu, kelebihan limbah biomassa ini adalah mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi. Pada tahun 2003, dalam satu proses produksi di PG. Kebon Agung menghasilkan blotong sebanyak ± 21 ribu ton (Solihin dalam Afriyanto 2011). Blotong basah mempunyai kadar air 50 – 70%, dalam sehari dapat dihasilkan 3,8 – 4% dari jumlah tebu yang digiling (Siregar, 2010). Tabel 2 menyajikan komposisi blotong kering (kadar air 25%) oleh Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Bahan dan Barang Teknik Bandung.


Tabel 2.

Komposisi Kimia Blotong Kering

Unsur

Kadar Kandungan

Nitrogen (N)

1,4 %

Posphat (P)

3,03 %

Kalium (K)

0,7 %

Kalsium (Ca)

16,2 %

Sulfat (SO3)

6,42 %

Ampas tebu (bagasse)

64,00 %

Kalor bakar

3,319 kkal / kg

                          Sumber : BBPPIBB dalam Afriyanto, 2011.


Pemanfaatan Blotong

1.       Bahan pembuatan bata beton

Bata beton ini menggunakan bahan baku semen, pasir dan blotong setelah dibakar. Blotong digunakan untuk mensubstitusi semen sehingga penggunaan semen dapat dikurangi dan menghasilkan produk dengan harga lebih murah. Dengan  penambahan abu blotong 30% dari berat semen yang seharusnya, mampu menghasilkan bata beton dengan kuat tekan 100 kg/cm2. Sedangkan bata beton dengan kuat tekan 70 kg/cm2 dihasilkan dari penambahan abu blotong 44 – 50% (Moenir dkk, 1997).

2.       Briket biomassa

Briket adalah bahan bakar alternatif pengganti dan termasuk dalam sumber energi terbarukan. Penggunaan briket biomassa dapat mengganti fungsi minyak tanah dan LPG. Blotong dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku briket karena memiliki nilai kalor cukup tinggi 3,319 kkal/kg (tabel 2). Kualitas briket blotong berbahan perekat tetes tebu (molases) disajikan pada tabel 3.


Tabel 3.

Perbandingan Kualitas Briket Blotong, Briket Arang Kayu dan Parafin

Parameter

Satuan

Briket blotong

Briket arang kayu (pasar)

Parafin

SNI 01-6235-

2000

Suhu api / bara yang dihasilkan

°C

357,22 - 496, 11

489,17

506,53

 

Laju pembakaran

gram/menit

0,73 - 0,93

1,15

3,33

 

Nilai kalor

kal/gram

1615 - 1995

4546

 

> 5000

Kerapatan

gram/cm3

0,86 - 1,04

     

Kadar zat terbang

%

24,93 - 28,50

143,97

0

< 15

Kadar abu

%

35,40 - 51,27

9,66

0

< 8

Kadar air

%

9,00 - 13,40

11,70

10,10

< 8

 Sumber : Afriyanto, 2011 & SNI 01-6235-2000.


Karakteristik briket bermutu baik adalah memiliki kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, laju pembakaran yang rendah, tetapi memiliki kerapatan, nilai kalor yang tinggi, begitu pula suhu api/bara yang dihasilkan juga tinggi. Kerapatan tinggi dapat meningkatkan nilai kalor. Namun, kerapatan yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan briket sulit terbakar. Sebaliknya, briket dengan kerapatan terlalu rendah mengakibatkan briket cepat habis dalam pembakarannya karena bobot yang lebih rendah.

3.       Bahan baku kompos

Blotong dapat digunakan sebagai bahan pembuatan kompos karena blotong mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur nitrogen, proses pengomposan blotong dicampur dengan abu ampas tebu yang juga merupakan limbah padat pabrik gula dengan perbandingan abu ampas tebu : blotong adalah 1 : 3. Kandungan hara kompos blotong dan abu ampas tebu disajikan pada tabel 4.


Tabel 4.

Kompos Blotong dan Abu Ampas Tebu

Parameter

Satuan

Hasil Pengujian

SNI 19-7030 -2004

Nitrogen (N)

%

1,37

> 0,40

Phosphat (P2O5)

%

1,81

> 0,10

Kalium (K2O)

%

2,22

> 0,20

Besi (Fe)

%

0,49

< 2,00

Calsium (Ca)

%

2,56

< 25,50

Magnesium Oksida (MgO)

%

0,53

< 0,60

Manganesse (Mn)

%

0,06

< 0,10

pH 10 % larutan

-

7,1

6,80 - 7,49

Zinc (Zn)

ppm

80,99

< 500

Tembaga (Cu)

ppm

44,01

< 100

Carbon Organik

%

16,48

9,80 - 32,00

C/N Ratio

%

12,03

10,00 - 20,00

Sumber : Astuti, 2006 & SNI 19-7030-2004.


Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa kualitas kompos yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria kompos dari SNI 19-7030-2004. Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton kompos per hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan (Astuti, 2006).

Ampas Tebu

Ampas tebu adalah suatu residu dari proses penggilingan tanaman tebu setelah diekstrak atau dikeluarkan niranya pada industri pemurnian gula sehingga diperoleh hasil samping sejumlah besar produk limbah berserat dan mempunyai tingkat higroskopis tinggi yang disebut ampas tebu (baggase). Ampas tebu dihasilkan dari 32% tebu atau sekitar 10,2 juta ton/tahun atau per musim giling se-Indonesia. Sebagian besar ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar ketel untuk memproduksi energi. Sisanya terhampar di lahan pabrik sebagai limbah padat yang merugikan lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Ampas tebu mudah terbakar karena mengandung air, gula, serat dan mikroba sehingga bila tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas. Jika suhu tumpukan mencapai 94ºC akan terjadi kebakaran spontan (Syahputra dkk, 2011). Adapun komposisi kimia ampas tebu disajikan pada tabel 5.


Tabel 5.

Komposisi Kimia Ampas Tebu

Unsur

Kadar kandungan

Karbon ( C )

47,0 %

Hidrogen (H)

6,5 %

Oksigen (O)

44,0 %

Abu

2,5 %

Kalor

1825 kkal /kg (2,5% gula)

Protein kasar

1,01 - 2,11 %

Serat kasar

43 - 52 %

Kecernaan

< 25 %

Kadar NDF (Neutral Detergent Fiber)

84,2 %

Kadar ADF (Acid Detergent Fiber)

51%

Hemiselulosa

33,2 %

Selulosa

40,3 %

Lignin

11,2 %

Nilai kalor

7600 kJ/kg (kadar air 50%)

Sumber : Christiyanto dan Subrata, 2005.


Pemanfaatan Ampas Tebu

1.       Penghasil listrik

Industri gula memiliki potensi listrik dan telah diimplementasikan di banyak negara. Teknologi pembangkit listrik yang masih banyak digunakan di Indonesia adalah teknologi konvensional Backpressure Turbines. Teknologi ini menggunakan uap bertekanan rendah – menengah  (<20 bar) dengan konversi 12 – 19 kg uap/KWH dan mampu memproduksi listrik 28 – 60 KWH/ton tebu. Dengan nilai kalori ampas tebu sekitar 7600 kJ/kg pada kadar air 50% (tabel 5). Maka ampas tebu dan daduk (daun tebu kering) merupakan sumber energi potensial penghasil listrik. Potensi produksi listrik dari ampas dan daduk mencapai 1.408.940 MWH dan bisa diwujudkan dalam jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang potensi produksi listrik dapat ditingkatkan hingga 2,80 juta MWH (Kurniawan dan Santoso, 2009).

2.       Sumber pakan ternak berserat

Untuk dapat digunakan sebagai pakan ternak berserat, ampas tebu harus mengalami perlakuan fisik dan biologis terlebih dahulu karena tekstur ampas tebu yang keras, rendahnya nilai gizi dan rendahnya kecernaan oleh hewan ternak. Karena adanya ikatan lignin dengan selulosa dan hemiselulosa sehingga perlu dilakukan pemecahan ikatan lignin selulosa dan hemiselulosa pada ampas tebu. Pemasakan ampas tebu dengan kadar air 30% pada tekanan 1,5 kg/cm2 menggunakan autoclave dan fermentasi menggunakan starter berupa kapang T. Viride  mampu menurunkan kadar serat dinding sel (NDF/Neutral Detergent Fiber) dan kadar selulosa pada ampas tebu sehingga sesuai digunakan sebagai pakan ternak berserat (Christiyanto dan Subrata, 2005).

Abu Ampas Tebu

Abu ampas tebu merupakan hasil perubahan secara kimiawi pembakaran ampas tebu murni. Ampas tebu berguna sebagai bahan bakar untuk memanaskan ketel dengan suhu mencapai 550ºC - 600ºC dan lama pembakaran 4 – 8 jam. Komposisi kimia abu pembakaran ampas tebu disajikan pada tabel 6.

Tabel 6.

Komposisi Abu Ampas Tebu

Unsur

Kadar kandungan  (%)

SiO2

71

Al2O3

1,9

Fe2O3

7,8

CaO

3,4

MgO

0,3

K2O

8,2

P2O5

3,0

MnO

0,2

Sumber: Batubara dalam Siregar, 2010.

Abu ampas tebu mengandung senyawa silika (SiO2) yang juga merupakan bahan baku utama dari semen biasa (Portland) yang jumlahnya mencapai 71%. Pada proses pembakaran ampas tebu, semua komponen organik diubah menjadi gas CO2 dan H2O dengan meninggalkan abu yang merupakan komponen anorganik dengan reaksi: CxHyOx + O2 à CO2 (g) + H2O (g) + abu (Hanafi dan Nandang, 2010).

Pemanfaatan Abu Ampas Tebu

1.       Memperkuat produk keramik

Abu ampas tebu mempunyai kandungan silika (SiO2) yang sangat tinggi. Silika dalam abu yang dihasilkan dengan suhu pengabuan 550ºC - 600ºC berbentuk amorf. Penambahan 10% berat silika dalam bentuk amorf ke dalam adonan keramik menghasilkan kuat patah maksimum pada keramik yang lebih tinggi dari kuat patah keramik Indonesia dalam literatur yaitu 940 dyne/cm2 (Hanafi dan Nandang, 2010).

2.       Bata abu tebu

Bata abu tebu merupakan bahan bangunan dinding berupa bata dengan bahan dasar tanah liat, abu tebu dari pabrik gula dan semen sebagai perekat. Dicetak dengan pemadatan, pengeringan tanpa dibakar (non bakar). Bata abu tebu termasuk bahan bangunan efisien energi bila dibandingkan dengan bata merah karena tidak mengalami pembakaran pada proses produksinya. Oleh karena itu, bata abu tebu termasuk bahan bangunan tanah dengan stabilisasi semen yang ber-embodied energy 0,3 – 0,8 MJ/kg. Bata abu tebu juga mempunyai thermal properties yang sesuai dengan iklim tropis lembab. Mempunyai densitas 1,4 – 2 g/cm3. Daya serap air maksimum 25% dari volume bata. Bata abu tebu mempunyai kuat tekan lebih tinggi dari sebagian besar batu bata yang ada di pasaran saat ini yaitu minimal 50 kg/cm2. Kuat tekan bata abu tebu dapat didesain sesuai kebutuhan dengan persentase abu tebu maksimal 50% dan persentase semen maksimal 10% (Noerwarsito, 2004).

3.       Meningkatkan sifat mekanik dan fisis pada mortar

Mortar sering disebut sebagai plesteran yaitu campuran semen, pasir dan air yang memiliki persentase yang berbeda. Mortar berfungsi untuk melapisi pasangan batu bata, batu kali maupun batako agar permukannya tidak mudah rusak dan kelihatan rapi dan bersih (Daryanto dalam Mulyati dkk, tt). Abu ampas tebu mampu mengisi partikel-partikel pembentuk mortar sehingga porositas mortar akan menjadi lebih kecil, kedapan menjadi bertambah dan permeabilitas semakin kecil sehingga kekuatan mortar akan meningkat. Hal ini dikarenakan abu ampas tebu mempunyai kandungan senyawa silika SiO2) yang juga merupakan bahan baku utama dari semen biasa (Portland). Kualitas mortar dengan 15% abu ampas tebu disajikan pada tabel 7.


Tabel 7.

Parameter Kualitas Mortar

Parameter

Satuan

Hasil Pengujian

Kuat tekan

N/m2

32,80 x 106

Kuat tarik

N/m2

1,28 x 106

Kerapatan (densitas)

kg/m3

1144

Porositas

%

1,60

Penyerapan air

%

1,40

                             Sumber : Mulyati dkk, tt.


Limbah Cair

Limbah cair dari pabrik gula dihasilkan dari cairan bekas analisa gula di laboratorium dan luberan bahan olah yang tidak disengaja. Kemudian juga berasal dari pendingin alat mesin pabrik dan air kebutuhan karyawan (limbah domestik). Pada umumnya, Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) pada pabrik gula menggunakan sistem aerasi. Pengayaan limbah dengan udara (O2) dimaksudkan untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme. Dengan tersedianya oksigen sebagai sumber energi dan pernafasan di dalam limbah dapat memacu terjadinya proses biodegradasi. Proses biodegradasi secara anaerob akan menghasilkan gas NH3, CH4 dan H2S.

Pemberian limbah cair pabrik gula mampu meningkatkan bulk density dan stabilitas agregat yang termasuk dalam sifat fisik tanah. Hal ini diperkirakan karena ada asupan mineral (Ca, Mg dan sebagainya) dari limbah ke dalam pori-pori koloid tanah melalui proses pengikatan secara kimia sehingga terjadi perubahan sifat fisika pada tanah (Russel dalam Anwar dan Suganda, 2009). Sedangkan sifat kimia tanah yang meningkat dengan pemberian limbah adalah mineral P. Pemberian limbah meningkatkan P-total maupun P-tersedia yang berasal dari P yang terlarut dalam limbah sebagai sumber asupan P ke dalam tanah. Selain itu limbah mampu meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) pada tanah.

Limbah Gas

Belerang dioksida (SO2) merupakan limbah gas yang keluar dari cerobong reaktor sulfitir pada proses pemurnian nira tebu yang kurang sempurna sehingga menyebabkan polusi udara dan pemakaian belerang menjadi lebih tinggi dari normal. Pemakaian bahan tambahan proses (kapur dan belerang) yang berlebihan dapat dikontrol dengan kontrol kondisi proses pemurnian nira yang efektif melalui optimasi pH, suhu dan waktu sehingga gas SO2 yang dihasilkan dapat ditekan (Syahputra dkk, 2011).

Produk Samping

Ampas tebu disebut produk samping karena sebanyak 10,2 juta ton ampas tebu pertahun atau sekitar 97,4 % produksi ampas digunakan bahan bakar ketel yang mampu menghasilkan energi. Sedangkan sisanya (sekitar 0,3 juta ton pertahun) disebut sebagai limbah padat.

Tetes (molasses) termasuk produk samping pabrik gula. Tetes adalah sisa sirup terakhir dari stasiun masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga tidak mungkin lagi menghasilkan gula dengan kristalisasi konvensional. Diproduksi sekitar 4,5% dari tebu. Tetes dapat digunakan sebagai pupuk, pakan ternak. Juga sebagai bahan baku fermentasi yang dapat menghasilkan etanol, asam asetat, asam sitrat, monosodium glutamat (MSG), asam laktat, dll. Kandungan tetes tebu diperlihatkan pada tabel 8.

Tabel 8.

Kandungan Cairan Molasses Tebu

Unsur

Kadar kandungan (%)

Protein kasar

3,1

Serat kasar

60

Lemak kasar

0,9

Abu

11,9

Kadar air

15 -25

Sumber : Afriyanto, 2011.

Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan

Pabrik gula merupakan salah satu pabrik yang mampu memasok energinya sendiri (self sufficiency energy) karena energi yang digunakan berasal dari biomassa tebu. Dampak negatif dari limbah pabrik gula dapat diatasi melalui konsep zero waste dimana efisiensi dan efektifitas proses industri dapat ditingkatkan dengan pengolahan dan pemanfaatan limbah. Pemanfaatan tersebut dapat menurunkan tingkat pencemaran lingkungan, dihasilkannya produk serta energi yang bernilai ekonomis dan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat di sekitar industri tersebut.

Saran

1.         Perlu inovasi teknologi pemanfaatan limbah pabrik gula sehingga diperoleh diversifikasi pola pemanfaatan limbah yang bernilai ekonomis lebih tinggi dari sebelumnya.

2.          Peningkatan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya pemanfaatan limbah pabrik gula sehingga selain memberikan nilai ekonomis juga berkaitan dengan kesehatan lingkungan masyarakat sekitar.

Daftar Pustaka

Afriyanto, R. M. 2011. Pengaruh Jenis dan Kadar Bahan Perekat Pada Pembuatan Briket Blotong Sebagai Bahan Bakar Alternatif. Skripsi. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Anwar, E. K dan H. Suganda. 2009. Organic and Bio Fertilizer. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Anwar, S. 2008. Ampas Tebu. Laboratorium Bioindustri. Malang: Universitas Brawijaya.

Astuti, A. D. 2006. Sistem Pengelolaan Limbah Padat PT. Kebon Agung Pabrik Gula Trangkil Pati Jawa Tengah. Laporan Kerja Praktek. Program Studi Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik. Semarang: Universitas Diponegoro.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati. 2004. Pati Dalam Angka. Pati.

------------. 2006. Pati Dalam Angka. Pati.

------------. 2008. Pati Dalam Angka. Pati.

------------. 2010. Pati Dalam Angka. Pati.

------------. 2011. Pati Dalam Angka. Pati.

Christiyanto, M dan A. Subrata. 2005. Perlakuan Fisik dan Biologis Pada Limbah Industri Pertanian Terhadap Komposisi Serat. Laporan Kegiatan. Pusat Studi Agribisnis dan Agroindustri. Lembaga Penelitian. Semarang: Universitas Diponegoro.

Desain Industri BPPT Merevitalisasi Industri Gula. Kompas. 16 Januari 2012 : 13.

Hanafi, S dan A. Nandang. 2010. Studi Pengaruh Bentuk Silika dari Abu Ampas Tebu Terhadap Kekuatan Produk Keramik. Jurnal Kimia Indonesia. Vol 5 (1), 35 – 38.

Hapsari, L. 2011. Upaya Peningkatan Produktivitas Dan Kinerja Lingkungan Dengan Menerapkan Green Productivity Di Pabrik Gula Trangkil Pati. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Industri. Fakultas Teknik. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kurniawan, Y dan H. Santoso. 2009. Listrik Sebagai Ko-Produk Potensial Pabrik Gula. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. Vol 28 (1), 23 – 28.

Moenir, M., E. Prilyani, dan S. Wahyuningsih. 1997. Bata Beton Limbah, Salah Satu Alternatif Pengolahan Limbah Padat Industri Gula. Buletin Penelitian dan Pengembangan. No 23, 5 – 8.

Mulyati, S., D. Dahlan, dan E. Adril. Pengaruh Persen Massa Hasil Pembakaran Serbuk Kayu dan Ampas Tebu Pada Mortar Terhadap Sifat Mekanik dan Sifat Fisisnya. Makalah Laboratorium Material dan Struktur. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Padang: Universitas Andalas.

Noerwarsito, T. 2004. Abu Tebu Limbah Pabrik Gula Bata Efisien Enerji. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur. Vol 32 (1), 57 – 62.

Sarbi, S. 2008. Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah di Kota Parepare. Jurnal Bumi Lestari. Vol 8 (1), 28 – 40

Siregar, N. 2010. Pemanfaatan Abu Pembakaran Ampas Tebu dan Tanah Liat Pada Pembuatan Batu Bata. Skripsi. Departemen Fisika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Standar Nasional Indonesia No 01-6235-2000 tentang Briket Arang Kayu.

Standar Nasional Indonesia No 19-7030-2004 tentang Spesifikasi Kompos Dari Sampah Organik Domestik.

Sulaiman, D. 2008. Prinsip Menciptakan Agroindustri Ramah Lingkungan. Jakarta: Departemen Pertanian.

Syahputra, A. S., Munarti, dan D. P. O. Saputra. 2011. Pengolahan Limbah Pabrik Gula. Makalah Pengolahan Limbah Kimia. Jurusan Kimia. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam. Kendari: Universitas Haluoleo.

Yukamgo, E dan N. W. Yuwono. 2007. Peran Silikon Sebagai Unsur Bermanfaat Pada Tanaman Tebu. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Vol 7 (2), 103 – 116

Suprapto. 2003. Karakteristik, Penerapan dan Pengembangan Agroindustri Hasil Pertanian di Indonesia. Jakarta: Universitas Mercu Buana.

Arieyanti Dwi Astuti

Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati

E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction