IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Mendeteksi Gizi Buruk Pada Balita Detecting Malnutrition In Toddlers

PENDAHULUAN

Keberhasilan pembangunan nasio-nal suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yaitu SDM yang mempunyai fisik tangguh, mental kuat dan kesehatan prima serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Status gizi masyarakat merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat yang menentukan kualitas SDM. Kekurangan gizi yang terjadi pada anak dapat merusak kualitas SDM (http://astaqauliyah.com).

Salah satu masalah gizi utama di Indonesia adalah Kurang Energi Protein (KEP). KEP dibagi menjadi 3 yaitu KEP ringan, sedang dan berat. KEP tingkat berat sering dikenal sebagai gizi buruk. Gizi buruk merupakan keadaan tubuh yang mengalami kekurangan energi dan protein dari kebutuhan normalnya. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan serta menu-runkan daya tahan tubuh yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian. Dampak kekurangan gizi terli-hat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Bappenas, 2007).

Berbagai penelitian membuktikan apabila lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Anak dengan gizi buruk memiliki resiko meninggal 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang buruk (http://majalah sinovia.multiply. com/). 

Prevalensi gizi buruk berdasarkan indeks BB/TB di Kabupaten Pati dari tahun 2008 hingga 2010 selalu menunjukkan peningkatan dengan angka tertinggi terjadi di tahun 2010 yaitu 0,31%. Gambaran prevalensi gizi buruk di Kabupaten Pati ditampilkan pada tabel 1.


Tabel 1.

Prevalensi Gizi Buruk Kabupaten Pati Tahun 2008-2010

Tahun

Jumlah

Balita

Jumlah Gizi Buruk

Prevalensi

Gizi buruk

2008

73372

127

0,17

2009

82969

164

0,2

2010

88704

188

0,31

Sumber: Dinas Kesehatan  Kab. Pati (2008-2010)

Peningkatan prevalensi gizi buruk diasumsikan karena adanya pola asuh gizi kurang baik yang tercermin dari rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan yang hanya 60,6% (Dinkes Pati, 2010).

Hingga saat ini penanganan gizi buruk secara umum masih menggunakan pendekatan bidang kesehatan yang sifatnya darurat dan mendesak seperti bantuan pengobatan dan perawatan, pemberian makanan tambahan pemulihan dan suplementasi zat gizi. Pada saat bantuan dihentikan, masalah kekurangan gizi akan kemabali terjadi karena ketidakmampuan keluarga yang berhubungan dengan rendahnya daya beli dan keadaan ekonomi keluarga. 

Gizi buruk berdampak sangat fatal bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga perlu diketahui batasan, gejala umum, cara mendeteksi, faktor penyebab dan dampak gizi buruk. Hal tersebut ditujukan agar upaya penanganan bisa dilakukan secara tepat dan kasus gizi buruk dapat ditangani secara tuntas. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah menjelaskan cara mendeteksi gizi buruk pada balita.

GIZI BURUK

Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tingkat berat akibat kurang mengkon-sumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Gizi buruk ditandai dengan status gizi sangat kurus menurut indeks berat badan terhadap tinggi badan dan atau hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau marasmus-kwashiorkor. Kwashiorkor merupakan jenis gizi buruk karena kekurangan protein sedangkan marasmus kekurangan karbohidrat. Sedangkan marasmus-kwashiokor terjadi karena kekurangan protein dan karbohidrat. Gizi buruk biasanya terjadi pada anak usia di bawah lima tahun (Sudayasa, 2010).

GEJALA UMUM GIZI BURUK

Secara umum gejala gizi buruk sebagai berikut:

Kelelahan dan kekurangan energi

Berkurangnya asupan nutrisi secara tidak langsung mempengaruhi jumlah energi yang tersedia untuk anak sehingga anak akan mudah lelah, tidak bersemangat, tidak mau bermain, mudah mengantuk, dan lain-lain.

Sistem kekebalan tubuh yang rendah

Sistem kekebalan tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Hal tersebut berpengaruh semakin besar pada anak-anak karena saat masa pertumbuhan, selain sel-sel tubuh, sel-sel darah putih juga berkembang dan berguna sebagai sistem pertahanan tubuh. Bila pada tahap perkembangan asupan nutrisi terganggu, anak akan mudah sakit karena daya tahan tubuh yang rendah.

Kulit yang kering dan bersisik

Asupan nutrisi tidak hanya berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi juga sebagai sumber energi untuk memperbaiki sel-sel yang rusak atau mati. Sel-sel pada tubuh manusia yang ber-regenerasi paling cepat adalah kulit, sehingga bila asupan nutrisi terhambat kulit akan menunjukkan efek yang sangat cepat. Kulit yang rusak atau mati tidak dapat membelah sehingga kulit tampak kering dan bersisik.

Gusi bengkak dan berdarah

Proses infeksi dari kuman mempunyai peranan penting dalam kesehatan dan kebersihan rongga mulut. Sebagaimana disebutkan diatas, sistem kekebalan tubuh yang berkurang akan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Hal ini berlaku di seluruh tubuh termasuk kesehatan gigi dan rongga mulut. Gusi yang meradang akan memperlihatkan gejala bengkak dan mudah berdarah.

Gigi yang membusuk

Gigi yang terinfeksi akan cepat rusak dan jika tidak diobati akan membuat gigi membusuk.

Sulit berkonsentrasi dan reaksi yang lambat

Anak-anak dengan asupan gizinya kurang atau tidak mencukupi umumnya mudah lelah, mengantuk dan malas bermain. Gairah anak untuk belajar juga menurun dan anak sulit untuk konsentrasi.

Berat badan kurang

Salah satu indikator pertumbuhan anak yang paling mudah dinilai adalah berat badan. Apabila asupan gizi tidak mencukupi akan segera terlihat efeknya yaitu berat badan anak tidak bertambah, malah menurun. Bila kekurangan asupan gizi ini berlangsung singkat maka akan terlihat anak bertambah kurus atau kecil (wasting ).

Pertumbuhan lambat

Pertumbuhan anak terhambat karena asupan nutrisi yang kurang. Bila kekurangan asupan gizi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, maka akan menyebabkan postur tubuh anak yang pendek (stunting).

Kelemahan pada otot

Otot membutuhkan energi dari protein dan mikro nutrien lainnya. Bila asupan gizi terhambat maka kerja otot terganggu. Sebagai akibatnya, anak akan terlihat lemah dan tidak bersemangat karena tubuhnya terasa lemas.

Tulang yang mudah patah

Dalam pertumbuhan anak, semua sel ikut tumbuh termasuk tulang. Apabila asupan nutrisi terhambat maka zat-zat yang dibutuhkan tulang seperti mikro nutrient kalsium juga berkurang, maka pertumbuhan tulang juga akan terhambat dan tulang akan mudah patah.

Masalah pada fungsi organ tubuh

Asupan nutrisi yang terhambat menyebabkan fungsi organ tubuh terhambat karena setiap organ tubuh memerlukan energi untuk dapat berfungsi dengan baik. Apabila organ-organ tubuh sudah terganggu fungsinya maka anak akan terancam nyawanya. Pada kondisi ini anak sangat rentan terhadap penyakit dan bila anak sampai terkena infeksi, maka fungsi sistem kekebalan tubuh akan menurun dan semakin memperparah kondisi anak (http://medicastore.com).

CARA MENDETEKSI GIZI BURUK

Untuk mengetahui seorang anak menderita gizi buruk perlu dihitung status gizinya. Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung antara lain dengan antropometri, biokimia, klinik, biofisik. Penilaian status gizi secara tidak langsung dilakukan dengan survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Pengukuran yang sering digunakan adalah pengukuran dengan antropometri. Secara umum antropo-metri berarti ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, dkk, 2001). Berat badan merupakan antropo-metri yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf (Arisman, 2004).

Standar baku yang dianjurkan untuk menilai status gizi anak di bawah lima tahun di Indonesia adalah baku World Health Organization-National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS). Indeks antropometri yang sering digunakan untuk mendeteksi gizi buruk adalah berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dengan ambang batas memakai standar deviasi unit (SD) yang disebut Z-Skor dan dibandingkan dengan Klasifikasi Status Gizi Anak (tabel 2). Untuk menghitung status gizi diperlukan tabel baku rujukan WHO-NCHS.


Cara perhitungan status gizi berdasarkan Z-Skor sebagai berikut :

  Z-Skor     =    Nilai individu subyek - Nilai median Baku Rujukan 

                                     Nilai Simpang Baku Rujukan

Tabel 2.

 Klasifikasi Status Gizi Anak (Balita)

Indeks

Status Gizi

Ambang Batas

Berat badan menurut umur

(BB/U)

Gizi lebih

>+ 2 SD

Gizi baik

- 2 SD Sampai + 2 SD

Gizi kurang

< -2 SD Sampai  -3 SD

Gizi buruk

< -3 SD

Tinggi badan menurut umur  (TB/U)

Normal

 -2 SD

Pendek (Stunted)

< -2 SD

Berat badan menurut tinggi  badan (BB/TB)

Gemuk

> + 2 SD

Normal

 + 2 SD Sampai - 2 SD

Kurus (Wasted)

< -2 SD Sampai  -3 SD

Kurus sekali

< -3 SD

Sumber : Keputusan Menkes RI No. 920/Menkes/SK/VII/2002


Contoh:  Anak berjenis kelamin laki-laki, umur 35 bulan dengan Berat Badan 15,2 kg. Untuk menghitung status gizi anak perlu  tabel berat badan (kg) anak laki-laki usia 35 bulan berdasarkan baku rujukan WHO-NCHS


 Tabel 3. 

Berat Badan(kg) anak laki-laki usia 35 bulan Berdasarkan Baku rujukan WHO-NCHS

Usia

Standar Deviasi

bln

-3SD

-2SD

-1SD

Median

1SD

+2SD

+3SD

35

9,9

11,4

13,0

14,5

16,0

17,4

18,9

Sumber: Supariasa, dkk (2002)

Menurut klasifikasi status gizi anak berdasar indeks BB/U (Tabel 2), status gizi anak masuk dalam kategori baik karena masih dalam rentang –2 SD s/d + 2SD.

Cara mendeteksi gizi buruk secara praktis adalah dengan membandingkan antara berat badan anak dengan berat badan idealnya.  Berat Badan Ideal  (BBI) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

Tabel 4. 

Rumus untuk Menghitung  Berat Badan Ideal  (BBI)

Usia Anak

Rumus Berat Badan Ideal (BBI)

 1-6 bulan

BBI (gr) = Berat Bayi Lahir (gr)+usia (bulan) x 600 gr

7-12 bulan

BBI (gr) = Berat Bayi Lahir (gr)+usia (bulan) x 500 gr

BBI (kg) = (usia {bulan}/2) +3

1-10 tahun

BBI (kg) = (2n + 8), dimana 2n adalah 2 dikali usia dalam tahun dan bulan


Contoh pertama: anak balita usia 14 bulan, sebelum usia balita ini dimasukkan rumus terlebih dahulu usia 14 bulan diuraikan menjadi tahun dan bulan yaitu 1 tahun 2 bulan dimana 1 tahun adalah 12 bulan. Karena usia dalam tahun dan bulan maka 1 tahun 2 bulan ditulis dengan 1,2 (dibaca 1 tahun 2 bulan). Selanjutnya baru dimasukkan ke dalam rumus yaitu = (1,2 x 2) + 8 = 2,4 + 8 = 10,4. Jadi hasilnya berat badan ideal untuk anak balita usia 14 bulan adalah 10,4 kg.

Contoh kedua: Anak balita usia 2 tahun 10 bulan, seperti di atas ini ditulis dengan usia = 2,10 dan selanjutnya dikali dengan 2. Jadi hasilnya adalah 4,20. Hasil ini jangan langsung ditambah dengan 8, karena 4,20 diartikan 4 tahun 20 bulan, 20 bulan artinya 1 tahun 8 bulan, jadi 4,20 berubah menjadi 5,8, baru kemudian ditambah dengan 8 maka berat badan idealnya adalah 13,8 kg.

Langkah selanjutnya untuk mengetahui seorang anak menderita gizi buruk setelah mengetahui berat badan ideal adalah membandingkan dengan berat badan anak yang sesungguhnya. Jika hasilnya berat badan anak sampai di bawah 30% berat idealnya berarti anak menderita gizi kurang dan jika dibiarkan bisa berlanjut menjadi gizi buruk (http://arali2008.wordpress.com). 

PENYEBAB GIZI BURUK

  UNICEF dalam Soekirman (2000) telah mengembangkan kerangka konsep makro penyebab gizi kurang sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang gizi. Secara lebih rinci, penyebab gizi buruk dapat dibedakan menjadi penyebab langsung, penyebab tidak langsung, pokok masalah di masyarakat dan akar masalah.

Penyebab langsung

1.       Kurangnya asupan gizi dari makanan.

Asupan gizi ditentukan oleh kualitas dan kuantitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukkan jumlah masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Apabila susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya, maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan yang sebaik-baiknya. Konsumsi yang kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas akan memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau kondisi defisiensi. Terbatasnya kuantitas dan kualitas yang dikonsumsi terjadi karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan (Sediaoetama, 2006).

2.       Keberadaan penyakit  infeksi.

Infeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara, yaitu (1) berhubungan dengan nafsu makan; (2) dapat juga menyebabkan kehilangan bahan makanan; (3) sehingga kebutuhan zat gizinya tidak terpenuhi; Secara umum defisiensi gizi sering merupakan awal dari gangguan defisiensi sistem kekebalan. Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan hubungan timbal balik dan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan zat gizi, dan keadaan gizi yang jelek dapat mempermudah seseorang terkena penyakit infeksi (Supariasa, dkk, 2002). Anak yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit.  Penyakit yang sering terjadi pada anak gizi buruk adalah ISPA, diare persisten, cacingan, tuberculosis, malaria, HIV/AIDS (http://www.maluku prov.go.id).

Penyebab tidak langsung

1.      Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai.

Kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk. Ketahanan pangan merupakan kondisi pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu gizinya. 

2.      Pola pengasuhan anak kurang memadai.

Tingginya angka gizi buruk disebabkan oleh pola asuh orang tua atau keluarga yang kurang benar terhadap anak (http://megapolitan.kompas.com). Diantara penyebab kasus balita gizi buruk antara lain (1) balita tidak mendapat ASI eksklusif atau  mendapat makanan selain ASI sebelum umur 6 bulan; (2) balita disapih sebelum umur 2 tahun; (3) balita tidak mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau lebih; (4) MP-ASI kurang dan tidak bergizi; (5) setelah umur 6 bulan balita jarang disusui. Pola asuh adalah praktek di rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak. Aspek kunci dalam pola asuh gizi antara lain; (1) perawatan dan perlindungan bagi ibu; (2) praktek menyusui dan pemberian MP-ASI; (3) pengasuhan psikososial; (4) penyiapan makanan; (5) kebersihan diri; (6) sanitasi lingkungan dan praktek kesehatan di rumah; (7) serta pola pencarian pelayanan kesehatan (WNPG VII, 2000).

3.      Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai.  

Sistem pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan. Lingkungan yang buruk seperti air minum tidak bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran kuman penyakit (Dep. Giz Kes Masy. FKM UI, 2008).

Ketiga faktor tidak langsung berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan keluarga. Faktor pendidikan ibu yang rendah berperan besar terhadap terjadinya kasus gizi buruk. Pendidikan ibu yang kurang memadai berdampak pada pola makan anak yang tidak sehat. Ibu yang berpendidikan rendah cukup sulit untuk di-edukasi atau diberi pengetahuan tentang gizi (http://seputar balita2plus. blogspot.com). Kurangnya pengetahuan gizi berkaitan dengan konsepsi yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan serta kemampuan menerapkan informasi gizi dalam kehidupan sehari-hari. Minimnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga dan selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, menjadi penyebab langsung kekurangan gizi pada balita (Suhardjo, 2003).                           

Pokok masalah di masyarakat

Tidak maksimalnya pemberdayaan keluarga dan pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

Akar masalah

Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut memicu munculnya kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan (Moehji, 2002).

DAMPAK GIZI BURUK                                                                                                                                                

Gizi buruk memberikan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, selain konsekuensi yang diterima anak gizi buruk itu sendiri. Dampak tersebut antara lain:

Menyebabkan kematian

Dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berbagai disfungsi yang dialami. Ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya

tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang di bawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit penting serta cairan tubuh.  

Kecerdasan anak akan berkurang

Anak yang menderita gizi buruk akan tumbuh menjadi manusia bodoh karena tingkat IQ turun 10 hingga 15 point dengan konsekuensi resiko tidak mampu menangkap ilmu pengetahuan. Daya pikir  juga sangat lemah akibat defisiensi atau kekurangan berbagai mikro nutrient lain seperti yodium, Fe dan kurang enegi protein pada masa balita. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi gizi buruk terjadi pada masa usia 0-3 tahun maka otak tidak dapat berkembang sebagaimana anak yang sehat dan kondisi ini akan irreversible (sulit untuk dapat pulih kembali). Dampak gizi buruk terhadap pertumbuhan otak  menjadi vital karena otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak.

Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari anak normal

Gizi buruk mempengaruhi pertum-buhan anak dalam jangka panjang. Anak akan mempunyai postur tubuh yang lebih kecil dan pendek dibandingkan teman sebayanya.

Menderita sakit infeksi kronis

Gizi buruk akan merusak sistem pertahanan tubuh sehingga mudah sekali terkena infeksi seperti: batuk, pilek, diare, TBC (http://io.ppi-jepang.org/).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun yang merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi atau nutrisinya di bawah standar rata-rata, dengan gejala umum: (a) Kelelahan dan kekurangan energi;  (b) Sistem kekebalan tubuh yang rendah; (c) Kulit yang kering dan bersisik ; (d) Gusi bengkak dan berdarah; (e) Gigi yang membusuk; (f) Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat; (g) Berat badan kurang; (h) Pertumbuhan yang lambat; (i) Kelemahan pada otot. Adapun cara mendeteksinya dengan menghitung Z-skor berdasarkan indeks BB/TB, jika nilai Z-Skor lebih kecil dari -3,0 SD, maka status gizi anak termasuk dalam kategori gizi buruk. Sementara itu, penyebab gizi buruk menurut UNICEF (1998) terdiri atas; (a) penyebab langsung yaitu kurangnya asupan gizi dari makanan dan adanya penyakit  infeksi; (b) penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai, pola pengasuhan anak kurang memadai, pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai; (c) pokok masalah di masyarakat yaitu kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung; (d) akar masalah yaitu adanya  pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial. Selanjutnya, dampak gizi buruk antara lain; (a) menyebabkan kematian bila tidak segera ditanggulangi oleh tanaga kesehatan ; (b) Kecerdasan anak akan berkurang; (c) Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari anak normal (d) Sering sakit infeksi kronis, seperti: batuk, pilek, diare, TBC, dll.

Saran

Gizi buruk pada balita, perlu disosialisasikan kepada keluarga, masyarakat, pelayanan kesehatan, sektor lain yang terkait seperti sektor pendidikan, koperasi, ketahanan pangan, pertanian, dan peternakan. Perlu digalang kerja sama dengan semua pihak dalam penanganan kasus gizi buruk.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC

Astuti, R.S dan  Mulyadi A, 2011,  Pola Asuh Sebabkan Ratusan Balita Gizi Buruk, http://megapolitan. kompas.com. Diakses 14 Januari 2012.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2007. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Bekti. 2009. Kenali Tanda dan Gejala Gizi Buruk.  http://medicastore. com. Diakses  12 Januari 2012.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. 2008. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dinkes Kab. Pati. 2008. Profil Kesehatan Kab . Pati.  Pati.

_______. 2009. Profil Kesehatan Kab. Pati.  Pati.

_______. 2010. Profil Kesehatan Kab . Pati.  Pati.

Gizi Buruk. 2011. http://www.maluku prov.go.id. Diakses 14 Januari 2012.

Gizi Buruk Kisah Pilu Negeri Pangan. 2008. http://majalahsinovia.multiply.com. Diakses 10 Pebruari 2012

Makalah Gizi Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2010. http://astaqauliyah.com.Diakses tanggal  25 Januari 2012.

Mendeteksi Gizi Buruk dengan Berat Badan Ideal  Anak  Balita. 2008. http://arali2008.wordpress.com. Diakses 25 Januari 2012.

Moehji, S. 2002. Ilmu Gizi: Pengetahuan Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Papas Sinar Sinanti Brahtara

Nency, Y. 2005. Gizi Buruk Ancaman Generasi Yang Hilang. http://io.ppi-jepang.org/article.php ?id=113. Diakses 5 November 2005.

Pendidikan Ibu Rendah Picu Balita Gizi Buruk. 2011. http://seputarbalita-2plus.blogspot.com. Diakses tanggal  15 Januari 2012.

Sediaoetama, D. A. 2006. Ilmu Gizi jilid I. Jakarta: Dian Rakyat.

Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Sudayasa, P. 2010. 5 Penjelasan Singkat Kasus Balita Gizi Buruk. http://www.puskel.com. Diakses tanggal 10 Januari 2012

Suhardjo. 2003. Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara.

Supariasa, I.D.N dkk.  2002. Penilaian status Gizi. Jakarta: EGC.

Widyakarya  Nasional Pangan Gizi VIII. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan. Jakarta: LIPI.

 

Aeda Ernawati

Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati

E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction