IPTEK, Mempermudah Kehidupan

Banner01

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman Pangan

PENDAHULUAN

Global warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water run-off, kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif secara keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Kajian terkait dampak perubahan iklim pada bidang pertanian oleh National Academy of Science/NAS (2007) menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Australia-Asia Monsoon and El Nino-Southern.

Dampak perubahan iklim pada peningkatan temperatur sebenarnya sudah ditengarai sejak tahun 1990-an. Department for International Development (DFID), badan dari pemerintah Inggeris yang mengurusi bantuan pembangunan untuk negara-negara lain) dan World Bank (2007) melaporkan rata-rata kenaikan suhu per tahun sebesar 0.3 derajat celsius. Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang luar biasa mencapai 1 derajat celsius. Indonesia diprediksi akan mengalami lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3 persen per tahun. Intensitas hujan akan meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang nyata adalah meningkatnya risiko banjir. Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau panjang dan penurunan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhui kelangsungan produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandung resiko yang besar akan kegagalan panen dan kematian hewan ternak.

Keadaan tersebut di atas secara langsung maupun tidak langsung juga akan berdampak terhadap aktivitas  pertanian di  wilayah Kabupaten Pati.  Mengingat kondisi Kabupaten Pati dengan luas wilayah 150.368 Ha  terdiri atas  58.749 ha lahan sawah dan 91.629 ha lahan bukan sawah.  Dalam data lahan bukan sawah termasuk di dalamnya lahan yang dimanfaatkan untuk perkebunan, perikanan darat, hutan, padang rumput, dan pekarangan.  Data tahun 2005 jumlah penduduk Kabupaten Pati sebanyak 1.218.267 jiwa dengan mata pencaharaian  penduduk  bervariasi, sebagian besar bekerja pada sektor pertanian (secara umum).  Kontribusi sektor pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto  (PDRB) masih paling besar dibandingkan dengan sektor yang lainnya yaitu sebesar 45,33% (Pati Dalam Angka, 2005).

Berdasar pada uraian di atas, maka perlu dikaji sejauh mana dampak perubahan iklim (Climate Change) terhadap produktivitas tanaman pangan  (padi dan palawija), dengan tujuan untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan (padi dan palawija) di Kabupaten  Pati.

KAJIAN PUSTAKA

1.       Pemanasan Global

Pemanasan global (Global Warming) adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi (Wikipedia, 2010). Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18°C (1.33 ± 0.32°F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca.

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Menurut Soden et al. (2005),  Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat (Soden et al., 2005).

Beberapa dampak pemanasan global antara lain: Pertama, Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global (global warming), daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut justru akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).

Kedua,Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Ketiga, Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Keempat, Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kelima, Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

2.       Dampak Perubahan Iklim

Perubahan iklim (anomali) akan membawa pengaruh pada intensitas dampak dan sangat tergantung pada tingkat penyimpangannya (ekstern atau tidak ekstern). Secara umum dampak penyimpangan iklim terhadap aspek-aspek penataan ruang, meliputi: (a) Pemanfaatan lahan budidaya, berupa penurunan atau bahkan kegagalan berproduksi usaha pertanian, seperti: kegagalan panen tanaman pangan akibat kekeringan, kegagalan panen tanaman pangan akibat banjir, penurunan produksi holtikultura akibat penyimpangan iklim yang  mempengaruhi periode pembuahan, kebakaran hutan yang memengaruhi produksi kayu dan hasil hutan, dan kegagalan produksi kegiatan budidaya perikanan air tawar akibat kelangkaan air atau bahkan kebanjiran; (b) Penyimpangan iklim berupa curah hujan yang cukup tinggi, memicu  terjadinya gerakan tanah (longsor) yang berpotensi menimbulkan bencana alam, berupa : banjir dan tanah longsor; (c) Penyimpangan iklim berupa curah hujan yang sangat rendah dibarengi peningkatan suhu udara, menyebabkan terjadinya kekeringan. Kekeringan potensial menjadi penyebab terjadinya: penurunan ketersediaan air, yang akan mengganggu proses budidaya pertanian; kebakaran hutan; tidak maksimalnya operasionalisasi pembangkit tenaga listrik (PLTA).

Di Indonesia perubahan iklim adalah datangnya musim kemarau yang berkepanjangan, yang menyebabkan terjadinya kekeringan. Dampak kekeringan menjadi ancaman kegagalan panen tanaman bahan pangan. Penyebab anomali iklim,yang sering disebut El Nino, adalah naiknya suhu udara di Kawasan Asia Pasifik. Tahun 1997/1998 dan 1992/1993 Indonesia terkena dampak buruk dari bencana El Nino Southern Oscilliation (ENSO) berupa kekeringan yang amat hebat dan penurunan produksi beras lebih dari 30 persen yang menyebabkan import beras mencapai angka tertinggi 5,8 juta pada tahun 1998 (Bustanil Arifin, 2003 cit. Ditjen. Penataan Ruang -  Dekimpraswil, 2010).

Terjadinya penurunan produksi mempengaruhi volume ekspor dan impor komoditas pertanian. Pada tahun 1992 dan 1995, setahun setelah El-Nino terjadi, volume ekspor minyak sawit, teh dan kopi mengalami penurunan. Sebaliknya impor pangan mengalami peningkatan. Besarnya volume impor pangan oleh Indonesia dapat mempengaruhi harga beras dunia.

Dampak perubahan iklim: suhu udara meningkat 0,740C dalam kurun waktu 10 tahun  (1906-2005), permukaan laut naik 0,7 mm/tahun, kurang lebih pada tahun 2061 menjadi 70 mm, perubahan species flora dan fauna di hutan, perubahan pola dan musim tanam, perubahan frekuensi dan intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.

3.       Klasifikasi  Iklim

Dalam pembagian iklim, Oldeman lebih menitik beratkan pada banyaknya bulan basah-bulan kering secara berturut-turut yang dikaitkan dalam sistem pertanian untuk daerah-daerah tertentu. Bulan basah yang digunakan Oldeman adalah sebagai berikut: (a) Bulan basah apabila curah hujan lebih dari 200 mm.; (b) Bulan lembap apabila curah hujannya 100 mm - 200 mm; (c) Bulan kering apabila curah hujan kurang dari 100 mm.

Berdasarkan kriteria bulan basah, Oldeman menentukan lima klasifikasi iklim utama (Tabel 1.) dan sub tipe (Tabel 2.)

Tabel 1. Tipe utama iklim menurut Oldeman

NO.

TIPE UTAMA

PANJANG BULAN BASAH (BULAN)

1.

A

> 9

2.

B

7 – 9

3.

C

5 – 6

4.

D

3 – 4

5.

E

< 3

 

Tabel 3. Sub tipe iklim menurut Oldeman

NO.

SUB TIPE

PANJANG BULAN KERING (BULAN)

1.

1

<= 1

2.

2

2 – 3

3.

3

4 – 6

4.

4

> 6

Pembagian zona agroklimat menurut Oldeman dan Hubungannya dengan pertanian tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Tipe iklim dan penjabarannya

 TIPE IKLIM

PENJABARAN

 A1, A2

Sesuai untuk Padi terus menerus tetapi produksi kurang karena pada umumnya kerapatan fluks radiasi surya rendah sepanjang tahun.

 B1

Sesuai untuk Padi terus menerus dengan perencanaan awal musim tanam yang baik.Produksi tinggi bila panen musim kemarau. 

 B2

Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varitas umur pendek dan musim kering yang pendek cukup utk tanaman palawija

 C1

Tanam Padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun

 C2,C3,C4

Tanam Padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun. Tetapi penanaman palawija yang kedua harus hati2 jangan jatuh pada bulan kering

 D1

Tanam padi umur pendek satu kali dan biasanya produksi bisa tinggi karena kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu tanam palawija. 

 D2,D3,D4

Hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun tergantung pada adanya persediaan air irigasi.

 E

Daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali palawija, itupun tergantung adanya hujan.

 

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut. Oldeman mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004). Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).

4.    Pola Tanam

Pola tanam dapat disusun sesuai kebutuhan petani. Pemilihan jenis tanaman budidaya umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Diketahuinya ketersediaan air disuatu daerah dengan adanya neraca air maka penentuan pola tanam dalam satu tahun dapat diatur sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Penentuan pola tanam sangat dipengaruhi ketersediaan air. Maka dari itu, ketika waktu defisit air penentuan pola tanam akan berbeda jika air dapat ditambahkan ataupun tidak dapat diberikan penambahan air. Berikut akan diberikan lima contoh model pola tanam:

(a) Padi - Padi - Padi

Jika air saat terjadi defisit dapat disediakan maka dapat dilakukan penanaman padi sepanjang tahun. Namun jika air sulit tersedia ketika defisit air maka masih memungkinkan dilakukan penanaman padi sepanjang tahun namun dengan beberapa kriteria. Jika dalam satu tahun akan ditanam padi sebanyak tiga kali maka varietas padi yang digunakan adalah varietas genjah agar umurnya lebih pendek sehingga saat surplus air dapat dimanfaatkan penanaman hingga panen. Awal bulan nopember merupakan awal musim hujan namun pada dekade pertama masih terjadi defisit air. Maka penanaman padi kesatu dapat mulai. Jika persiapan hingga panen memerlukan waktu empat bulan maka saat penanaman padi kedua yaitu pada bulan Maret masih terdapat air namun bulan April hingga juni terjadi defisit air. Maka varietas padi yang ditanam mengunakan padi lahan kering. Penanaman padi ketiga pada bulan juli jika tetap tidak dapat diusahakan pengairan maka padi yang ditanam menggunakan varietas lahan kering.

(b) Padi - Padi - Palawija

Penanaman dengan pola tanam padi-padi-palawija dapat dimulai dengan penanaman padi pertama saat awal musim yaitu awal nopember. Persiapan dimulai bulan oktober sehingga pada awal musim penanaman telah siap. Pada bulan Pebruari penanaman padi kedua dapat dilaksanakan sehingga pada waktu defisit air yaitu pada bulan juni hingga Oktober dapat digunakan untuk penanaman palawija dan pengolahan tanah.

(c) Padi - Padi - Bero

Untuk memperbaiki keadaan tanah maka disamping dilakukan penanaman dapat juga dilakukan pemberoan. Jika padi ditanam dua kali seperti pola tanam padi-padi-palawija maka waktu penanaman palawija dapat digunakan untuk pemberoan dan pengolahan tanah. Waktu penanaman padi dapat disamakan dengan pola tersebut.

(d) Padi - Palawija - Bero

Menurut rekomendasi Oldeman, pola tanam yang sesuai untuk tipe iklim ini yaitu hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Pola tanam ini sesuai dengan rekomendasi Oldeman maka penanaman padi dapat dilakukan saat terjadi surplus air yaitu pada bulan Nopember hingga Maret. Dengan waktu lima bulan ini maka pertumbuhan padi dapat dioptimalkan. Sedangkan penanaman palawija ini dapat disesuaikan dengan jenis palawija dengan kebutuhannya terhadapa air. Jika palawija yang ditanam tidak terlalu tahan kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan maret disesuaikan saat surplus air sehingga waktu untuk penanaman padi lebih dimajukan dan sisanya untuk palawija. Jika palawija yang ditanam tahan terhadap kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan April kemudian dilakukan pemberoan.

(e)     Padi - Padi

Jika penanaman padi akan dilaksanakan dua kali dalam satu tahun tanpa kegiatan lagi. Maka penanaman padi pertama dilakukan saat surplus air yaitu bulan nopember hingga maret. Sedangkan penanaman padi kedua dapat digunakan padi lahan kering yang ditanam setelah padi kedua. Varietas padi dapat menggunakan varietas berumur panjang karena dalam satu tahun hanya dilakukan dua kali penanaman.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di wilayah Kabupaten Pati, mulai bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2010. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif (deskriftive analysis) kuantitatif maupun kualitatif yaitu penelitian yang didasarkan pada pemecahan masalah-masalah faktual  yang ada pada masa sekarang.  Data yang dikumpulkan disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data iklim (curah hujan), luas tanam, luas panen, produksi, dan produktivitas.  Data-data  tersebut diperoleh dengan cara mengutip data dan laporan dari instansi terkait (Kantor Statistik dan Dispertanak Kabupaten Pati).   Dalam penelitian ini data diperoleh dengan cara pencatatan, mengumpulkan data dari instansi terkait serta mengambil dari hasil studi literatur untuk wilayah sentra produksi sesuai dengan komoditasnya. Data yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis secara deskriftif maupun kualitaif. Analisis kuantitatif dengan menggunakan korelasi dan  regresi berganda dengan fungsi produksi sebagai berikut:

 

   Y   = f (X1, X2, X3, X4)

Dimana     Y   = Produksi

                X1 = Produktivitas

                X2 = Luas tanam

                X3 = Luas panen

                X4 = Bulan basah/lembab

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim selama lima tahun (tahun 2005 – 2009) di Kabupaten Pati berdampak terhadap produksi tanaman pangan (padi dan palawija).  Data iklim (curah hujan) di Kabupaten Pati  selama lima tahun terakhir disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4. terlihat bahwa kondisi iklim di  Kabupaten Pati  menurut klasifikasi Oldeman termasuk zona E3 karena jumlah bulan basah < 3 bulan dan bulan kering berkisar antara lima sampai enam bulan, keculai pada tahun 2008 termasuk zona E4 karena jumlah bulan kering lebih dari enam bulan. Kondisi iklim yang demikinan termasuk katagori ekstrim kering, apabila ditanami padi sawah rawan terhadap keringan.

Tabel 4. Data curah hujan tahun 2005 – 2009 di  Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

Rerata

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

248

Februari

143

293

189

106

341

214

Maret

216

125

207

115

166

166

April

177

125

203

88

148

148

Mei

62

121

51

111

136

96

Juni

95

6

75

6

38

44

Juli

37

3

16

4

8

13

Agustus

58

2

18

1

3

17

September

36

0

36

0

9

16

Oktober

150

28

83

31

16

62

Nopember

174

52

162

72

128

118

Desesember

340

158

307

162

117

217

Jml CH

1.765

1.124

1.476

804

1.583

1.351

Jml BB

1

2

2

-

2

2

Jml Bl

4

4

3

5

5

4

Jml BK

5

6

6

7

5

6

Klasifikasi iklim (Oldeman)

E3

E3

E3

E4

E3

E3

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah.

 

1.    Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi Sawah.

Dampak perubahan iklim terhadap gagal panen (kekeringan dan banjir), tingkat produksi padi disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5. terlihat bahwa jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan kering mempengaruhi luas gagal panen dan jumlah produksi padi sawah.

Tabel 5.  Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi padi sawah tahun 2005 – 2009 di Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

Februari

143

293

189

106

341

Maret

216

125

207

115

166

April

177

125

203

88

148

Mei

62

121

51

111

136

Juni

95

6

75

6

38

Juli

37

3

16

4

8

Agustus

58

2

18

1

3

September

36

0

36

0

9

Oktober

150

28

83

31

16

Nopember

174

52

162

72

128

Desember

340

158

307

162

117

Jml CH

1.765

1.124

1.476

804

1.583

Jml BB

1

2

2

-

2

Jml Bl

4

4

3

5

5

Jml BK

5

6

6

7

5

Luas tanam (ha)

104.482

80.622

104.018

109.937

 

Luas panen (ha)

91.277

92.911

75.131

94.349

96.277

Gagal panen :

13.205

-12.289

28.887

15.588

 

- Banjir

217

7.237

2.751

11.398

8.587

Prosentase (%)

0,21

8,98

2,64

10,37

 

- Kekeringan (ha)

1.137

207

18.987

341

10.803

Posentase (%)

1,09

0,26

18,25

0,31

 

Produksi (ton)

406.540

459.823

368.025

543.944

527.983

Laju  Produksi  (ton)

 

-53.283

91.798

-175.919

15.961

Prosentase (%)

 

-13,11

19,96

-47,80

2,93

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah

Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem).

Pada tahun 2005 jumlah curah hujan bulanan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Mei 2006 termasuk katagori bulan lembab dan basah, hal ini mengakibatkan peningkatan luas panen  sebesar 12,289%, produksi 13,11%.   Pada tahun 2006 pada bulan Oktober dan Nopember termasuk katagori bulan kering dan bulan Desember  sampai bulan Februari 2007 masuk dalam katagori bulan lembab ditambah dengan dua bulan basah Maret dan April 2007, hal ini akan meningkatkan luas tanam padi.

Pada bulan Mei terjadi berubahan curah hujan yang ekstrim yaitu masuk katagori bulan kering sampai dengan bulan Oktober 2008, hal ini mengakibatkan kekeringan pada tanaman padi. Adapun luas kekeringan tanaman padi mencapai 18.987 ha (18,25%) dari total luas tanam tahun 2008. Kondisi ini akan berdampak terhadap laju produksi padi di Kabupaten Pati tahun 2008. Berdasarkan uraian data di atas produksi padi tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 368.025 ton (19,96%). 

Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi padi sawah menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab akan menurunkan produksi sebesar 0,076 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,224 satuan.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan luas tanam sebesar 0,01  dan luas panen sebesar 0,043 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 1.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 7.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan  bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,913 artinya 91,3% produksi padi dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 8,7% oleh faktor  lain. Nilai F sebesar 182,802; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -2,040 + 1,036X1 + 0,39X2 + 0,932X3 – 0,86X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,00 untuk produktivitas, 0,649 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,00, dan bulan basah/lembab 0,313. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh negatif terhadap peningkatan produksi padi.

2.    Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Jagung.

Sentra tanaman jagung di Kabupaten Pati berada di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jeken, Batangan, Margorejo, Gembong, dan Gunungwungkal. Wilayah Kecamatan tersebut sebagian besar merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Luas tanam, luas panen, gagal panen, dan produksi jagung mengalami berfluktuatif bergantung kondisi curah hujan tahunan. Jika pada bulan Oktober/Nopember sampai dengan bulan Maret/April mempunyai curah hujan katagori basah atau lembab akan meningkatkan luas panen dan produksi jagung mengalami peningkatan. Namun demikian akan terjadi yang sebaliknya jika bulan Oktober/Nopember curah hujan  bulanan  tidak masuk katagori bulan basah/lembab akan menurunkan luas panen dan produksi jagung pada tahun berikutnya (Tabel 6.).

Pada tahun 2005 jumlah curah hujan bulanan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Mei 2006 termasuk katagori bulan lembab dan basah, hal ini mengakibatkan peningkatan produksi jagung sebesar 13,11%.   Pada musim kemarau (Mei – Oktober) tahun 2007 hampir setiap bulan masih turun hujan  dan curah hujan pada bulan Nopember masuk katagori bulan lembab, hal ini akan meningkatkan luas tanam jagung, tetapi produksinya mengalami penurunan sebesar 91.798 ton (19,96%) dibanding tahun sebelumnya.

Curah hujan sepanjang  tahun 2008 termasuk katagori bulan lembab dan kering maka curah hujan termasuk katagori ekstrim (bulan lembab 5 bulan dan bulan kering 7 bulan). Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan luas tanaman jagung dan produksi jagung mengalami peningkatan sebesar 175.944 ton (47,80%) dibanding tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009  dengan curah hujan merata sepanjang tahun (bulan basah 2, bulan lembab 5, dan bulan kering 5) mengakibatkan penurunan produksi sebesar 15,961 ton (2,93%) dibanding tahun sebelumnya. Angka tahun 2009 tersebut merupakan angka sementara.

Tabel 6. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi jagung tahun 2005 – 2009 di Kabupaten Pati

 

Bulan

Curah hujan

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

Februari

143

293

189

106

341

Maret

216

125

207

115

166

April

177

125

203

88

148

Mei

62

121

51

111

136

Juni

95

6

75

6

38

Juli

37

3

16

4

8

Agustus

58

2

18

1

3

Sept.

36

0

36

0

9

Oktober

150

28

83

31

16

Nop.

174

52

162

72

128

Des.

340

158

307

162

117

Jml Curah Hujan

1.765

1.124

1.476

804

1.583

Jml Bulan Basah

1

2

2

-

2

Jml Bulan Lembab

4

4

3

5

5

Jml Bulan Kering

5

6

6

7

5

Luas tanam (ha)

14.666

12.368

15.701

17.537

 

Luas panen (ha)

14.314

12.513

15.576

20.182

18798

Gagal panen (ha)

352

-145

125

-2.645

 

Prosentase (%)

2,40

-1,17

0,80

-15,08

 

Produksi (ton)

406.540

459.823

368.025

543.944

527.983

Prosentase (%)

 

-13,11

19,96

-47,80

2,93

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah

Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem).

Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi jagung menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan peningkatan produksi jagung  sebesar 0,053 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,161 satuan.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan  luas tanam sebesar 0,41  dan luas panen sebesar 0,065 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 3.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 9.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan  bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,960 artinya 96,0% produksi jagung dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 4,0% oleh faktor  lain. Nilai F sebesar 372,243; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = 0,118 + 0,085X1 + 0,030X2 + 0,951X3 – 0,023X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,381 untuk produktivitas, 0,743 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,00, dan bulan basah/lembab 0,805. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh negatif terhadap peningkatan produksi jagung.

3.       Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kedelai.

Sentra tanaman kedelai di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Winong, Jeken, Jakenan, dan Margorejo. Wilayah Kecamatan tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kedelai umumnya di tanam  menjelang musim kemarau (musim mareng), jika pada awal musim kemarau kondisi  rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kedelai.  Pada tahun 2006 dan tahun 2008 curah hujan bulanan yang kurang dari 70 ml per bulan berturut-turut selama 4 bulan (Juni – September) mengakibatkan penurunan luas panen tanaman kedelai. Jika  rata-rata curah hujan bulanan pada bulan Juni di atas 70 ml per bulan mengakibatkan tingkat kegagalan panen tanaman kedelai berkisar 1,62% - 2,16%.

Pada tahun 2006 terjadi gagal panen sebesar 206 hektar (5,74) dan pada tahun 2008 mencapai 234 hektar (7,82%) dari luas tanaman yang ada pada tahun itu.  Data curah hujan tahun 2005 – 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi disajikan pada Tabel 7.

Pada tahun 2008 kondisi rata-rata curah hujan bulan yang kurang ( masuk katagori bulan kering dan bulan lembab), bahkan dalam satu tahun tidak ada rata-rata curah hujan bulanan yang masuk katagori bulan basah.  Hal ini mengakibatkan produksi kedelai mengalami peningkatan produk  sebesar 892 kuwintal (57,62%) dibandingkan tahun sebelumnya.

Tabel 7. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kedelai tahun 2005 – 2009 di Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

Februari

143

293

189

106

341

Maret

216

125

207

115

166

April

177

125

203

88

148

Mei

62

121

51

111

136

Juni

95

6

75

6

38

Juli

37

3

16

4

8

Agustus

58

2

18

1

3

Sept.

36

0

36

0

9

Oktober

150

28

83

31

16

Nop.

174

52

162

72

128

Des.

340

158

307

162

117

Jml Curah Hujan

1.765

1.124

1.476

804

1.583

Jml BB

1

2

2

-

2

Jml Bl

4

4

3

5

5

Jml BK

5

6

6

7

5

Luas tanam (ha)

2.654

3.590

1.111

2.991

 

Luas panen (ha)

2.611

3.384

1.087

2.757

3.213

Gagal panen :

43

206

24

234

 

Prosentase (%)

1,62

5,74

2,16

7,82

 

Produksi (kw)

5.324

4.491

1.548

2.440

5.015

Prosentase (%)

 

15,65

65,53

-57,62

-105,53

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah

Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem).

Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi kedelai menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kedelai  sebesar 0,030 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penuruna sebesar 0,386 satuan.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap penurunan   luas tanam sebesar 0,094 dan luas panen sebesar 0,109 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 4.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 10.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan  bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,957 artinya 95,7% produksi kedelai dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 4,3% oleh faktor  lain. Nilai F sebesar 204,777; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -1,483 - 0,094X1 + 1,047X2 + 0,645X3 + 0,210X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,625 untuk  produktivitas, 0,000 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,041, dan bulan basah/lembab 0,205. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kedelai.

4.    Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kacang Tanah.

Sentra tanaman kacang tanah di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Tambakromo, Winong, Jeken, Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal, Cluwak, Tayu, dan dukuhseti. Wilayah Kecamatan tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kacang tanah umumnya di tanam  menjelang awal musim dan akhir musim penghujan, jika pada awal dan akhir musim penghujan  kondisi rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kacang tanah.  Pada tahun 2006 di bulan Maret sampai dengan Mei rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 140 ml per bulan (katagori lembab) mengakibatkan peningkatan luas panen sebesar 10,49% dan produksi 2,91%. Jika  rata-rata curah hujan bulanan pada bulan Mei, Oktober dan Nopember di bawah 100 ml per bulan (bulan kering) mengakibatkan kegagalan panen tanaman kacang tanah sebesar 5,58% - 4,82%. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya kondisi tersebut mengakibatkan penurunan produksi berkisar 0,97% – 20,03%.    Data curah hujan tahun 2005 – 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi kacang tanah disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kacang tanah

Tahun 2005 – 2009 di Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

Februari

143

293

189

106

341

Maret

216

125

207

115

166

April

177

125

203

88

148

Mei

62

121

51

111

136

Juni

95

6

75

6

38

Juli

37

3

16

4

8

Agustus

58

2

18

1

3

Sept.

36

0

36

0

9

Oktober

150

28

83

31

16

Nop.

174

52

162

72

128

Des.

340

158

307

162

117

Jml Curah hujan

1.765

1.124

1.476

804

1.583

Jml Bulan basah

1

2

2

-

2

Jml Bulan lembab

4

4

3

5

5

Jml Bulan kering

5

6

6

7

5

Luas tanam (ha)

4.027

3.041

2.830

3.008

 

Luas panen (ha)

3921

3360

2672

2863

2433

Gagal panen (ha)

106

-319

158

145

 

Prosentase (%)

2,63

-10,49

5,58

4,82

 

Produksi    (kw)

3.919

4.033

3.994

3.194

3.384

Prosentase (%)

 

-2,91

0,97

20,03

-5,95

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah

Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem).

Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi kacang tanah menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan peningkatan produksi kacang tanah  sebesar 0,101 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,041.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan  luas tanam sebesar 0,942  dan luas panen sebesar 0,98. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 5.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 11.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan  bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,961 artinya 96,1% produksi kacang tanah dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 3,9% oleh faktor  lain. Nilai F sebesar 390,331; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -0,111 + 0,032X1 + 0,951X2 + 0,139X3 – 0,034X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,722 untuk produktivitas, 0,000 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,140, dan bulan basah/lembab 0,719. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kacang tanah.

5.    Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kacang Hijau.

Sentra tanaman kacang hijau di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jeken, Batangan, Jakenan, gabus, Pati, dan Margorejo. Sebagian besar wilayah tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kacang hijau  umumnya di tanam  menjelang awal musim dan akhir musim penghujan, jika pada awal dan akhir musim penghujan  kondisi rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan  untuk bulan Mei  dan lebih dari 100 ml per bulan untuk bulan Oktober dan Nopember akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kacang hijau  Pada tahun 2006 di bulan Oktober dan Nopember besarnya curah hujan bulanan lebih dari 100 ml per bulan mengakibatkan gagal panen sebesar 2,18%. Pada tahun 2006 bulan Oktober dan Nopember dengan curah hujan kurang dari 100 ml per bulan dan Bulan Desember masaih dalam katagori lembab mengakibatkan produksi kacang hijau mengalami peningkatan sebesar 47,54%.  Pada tahun 2007 besarnya curah hujan bulan Mei 51 ml per bulan  dan bulan Nopember 162 ml per bulan mengakibatkan gagal panen sebesar 13,77% dan produksi turun 48,53% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, dimana cuhan hujan bulan Mei di atas 70 ml per bulan dan pada bulan oktober dan  Nopember di bawah 100 ml per bulan serta bulan Desember masih dalam katagori bulan lembab mengakibatkan gagal panen sebesar 16,03%, tetapi produksi mengalami peningkatan sebesar 44,43%.

Data curah hujan tahun 2005 – 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi kacang hijau disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kacang hijau

Tahun 2005 – 2009 di Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

315

211

130

109

473

Februari

143

293

189

106

341

Maret

216

125

207

115

166

April

177

125

203

88

148

Mei

62

121

51

111

136

Juni

95

6

75

6

38

Juli

37

3

16

4

8

Agustus

58

2

18

1

3

Sept.

36

0

36

0

9

Oktober

150

28

83

31

16

Nop.

174

52

162

72

128

Des.

340

158

307

162

117

Jml CH

1.765

1.124

1.476

804

1.583

Jml BB

1

2

2

-

2

Jml Bl

4

4

3

5

5

Jml BK

5

6

6

7

5

Luas tanam (ha)

11.733

15.475

9.983

14.419

 

Luas panen (ha)

11.477

15.695

8.608

12.107

 

Gagal panen (ha)

256

-220

1.375

2.312

 

Prosentase (%)

2,18

-1,42

13,77

16,03

 

Produksi (ton)

12.005

17.712

9.117

13.168

 

Prosentase (%)

 

-47,54

48,53

-44,43

 

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 – 2009 yang diolah

Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem).

Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan  produksi kacang hijau menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kacang hijau  sebesar 0,347 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,200 satuan.  Selain itu,  perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sebesar 0,360 dan luas panen sebesar 0,345 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 6.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 12.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan  bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,987 artinya 98,7% produksi kacang hijau dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 1,3,% oleh faktor  lain. Nilai F sebesar 803,222; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -0,702 + 0,946X1 + 0,067X2 + 0,207X3 – 0,318X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 untuk produktivitas, 0,237 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,144, dan bulan basah/lembab 0,318. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kacang tanah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa,

1.       Kondisi iklim lima tahun terakhir (2005 – 2009) sebagian besar wilayah  Kabupaten  Pati berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman termasuk daerah beriklim kering (E).

2.       Perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) sangat berpengaruh terhadap produksi pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Pati.

3.       Besarnya rata-rata curah hujan bulanan  Oktober – Nopember dan April - Mei kurang dari 100 ml per bulan mengakibatkan penurunan produksi padi mencapai 19,6%.

4.       Untuk tanaman palawija apabila  pada bulan Oktober - Nopember di atas 70 ml per bulan dan di bawah 140 ml per bulan akan meningkatkan produksi palawija, tetapi apabila pada bulan Mei dan Juni jumlah curah hujan bulanan di atas 140 ml per bulan akan menurunkan produksi palawija.

 

SARAN

Untuk menekan tingkat penurunan produksi (gagal panen) tanaman padi dan palawija akibat perubahan (anomali) iklim  terutama yang berkaitan denganm curah hujan di wilayah Kabupaten Pati,  petani sangat  membutuhkan,

1.       Data curah hujan untuk mendukung kegiatan usahataninya.

2.       Bantuan sarana produksi (benih) untuk wilayah yang mengalami kekeringan pada MT 1 yang sesuai dengan agroklimat wilayah setempat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ammann, Caspar, et al. (06-04-2007). "Solar influence on climate during the past millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 104 (10): 3713-3718.

Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare, J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl, D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S. Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone." Science 316: 567-570.

Climate Change 2001:Working Group I: The Scientific Basis (Fig. 2.12). Diakses pada 8 Mei 2007

Ditjen. Penataan Ruang – Dekimpraswil, Review Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 2002.  Kebijakan Nasional Untuk Pengembangan Kawasan Budidaya, Bahan Sosialisasi RTRWN dalam rangka Roadshow dengan Departemen Pertanian, Jakarta, 17 Oktober 2002.

Effendy, Sobri., 2001. Urgensi Prediksi Cuaca dan Iklim di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor.

Foukal, Peter, et al. (14-09-2006). "Variations in solar luminosity and their effect on the Earth's climate.". Nature Diakses pada 16 April 2007.

Hegerl, Gabriele C.; et al. Understanding and Attributing Climate Change. (PDF) Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 20 Mei 2007 Kutipan: Recent estimates (Figure 9.9) indicate a relatively small combined effect of natural forcings on the global mean temperature evolution of the seconds half of the 20th century, with a small net cooling from the combined effects of solar and volcanic forcings

Hidayati, Rini., 2001. Masalah Perubahan Iklim di Indonesia Beberapa Contoh Kasus, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor.

NASA: Global Warming to Cause More Severe Tornadoes, Storms, Fox News, August 31, 2007.

Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (November 2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" (PDF). Space Science Reviews 94: 215-230. DOI:10.1023/A:1026723423896 Diakses pada 17 April 2007.

Sarjiman dan Mulyadi. 2005. Analisis Neraca Air Lahan Kering Pada Iklim Kering Untuk Mendukung Pola Tanam. Yogyakarta: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Summary for Policymakers. (PDF) Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 2 Februari 2007

Soden, Brian J., Held, Isacc M. (01-11-2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in Coupled Ocean-Atmosphere Models" (PDF). Journal of Climate 19 (14) Diakses pada 21 April 2007.

Stocker, Thomas F.; et al. 7.5.2 Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 11 Februari 2007

Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (09-03-2006). "Phenomenological solar contribution to the 1900-2000 global surface warming" (PDF). Geophysical Research Letters 33 (5). DOI:10.1029/2005GL025539. L05708 Diakses pada 8 Mei 2007.

Stott, Peter A., et al. (03-12-2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): 4079-4093. DOI:10.1175/1520-0442(2003)016%3C4079:DMUTSC%3E2.0.CO;2 Diakses pada 16 April 2007.

Winarso, P Agus., 2001. Peluang Munculnya Cuaca Ekstrem Akhir 2002 dan Awal 2003, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.

Winarso, P Agus., 2002. Perkembangan Alam Indonesia, Butir-Butir Bahan Masukan pada Acara Hari Air dan Meteorologi, Jakarta.

Tjasyono, B. 2004.Klimatologi. ITB: Bandung.

 

Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Pati.

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Yellow Green Red Cyan Orange

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Spotlight3

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction